[Book Review] Waiting by Ha Jin

book_info

hajin

book_blurb

For more than seventeen years, Lin Kong, a devoted and ambitious doctor, has been in love with an educated, clever, modern woman, Manna Wu. But back in his traditional home village lives the humble, loyal wife his family chose for him years ago. Every summer, he returns to ask her for a divorce and every summer his compliant wife agrees but then backs out. This time, after eighteen years’ waiting, Lin promises it will be different.

thoughtsLin Kong adalah dokter yang bekerja di rumah sakit militer. Tahun 1964, ia menikah dengan Shuyu karena permintaan orangtuanya setelah ia lulus dari sekolah kedokteran. Karena ibunya sakit keras, Lin mengiyakan dengan terpaksa.
Setelah ia bertatapmuka dengan Shuyu, ia terkejut mendapati Shuyu yang berusia 26 tahun terlihat tua seperti perempuan usia 40an. Selain itu, ia juga berpenampilan kuno, lengkap dengan kaki lotusnya. Selama dua dekade, Lin tidak mengijinkan istrinya untuk mengunjunginya di tempat kerjanya. Lin beranggapan, Shuyu tidak cocok dibawa keluar dari desanya.
Lin jatuh cinta pada seorang perawat yang bernama Manna Wu. Mereka menjalani hubungan rahasia karena peraturan rumah sakit yang melarang hubungan di antara staff rumah sakit. Hal ini bermula ketika seorang perawat dihamili oleh kekasihnya, dokter di RS tersebut. Keduanya dipecat dan dikembalikan ke kampung masing-masing.

Setiap tahun, Lin pulang ke desanya untuk menceraikan Shuyu, namun Shuyu selalu berubah pikiran setiap kali berhadapan dengan hakim di pengadilan cerai.
Manna sudah memasuki usia 40 tahun, dan ia sudah lelah menunggu perceraian Lin dengan istrinya.

Manna sendiri bukan gadis nakal. Ia masih begitu lugu ketika masuk akademi perawat tahun 1964. Ia bertemu seorang letnan bernama Mai Dong yang jatuh cinta padanya. Ia adalah kepala stasiun radio di pangkalan militer Muji. Manna mengaku berasal dari provinsi Shandong, menutupi fakta bahwa ia dibesarkan tanpa kampung halaman. Orangtua Manna meninggal karena kecelakaan di Tibet sewaktu Manna berusia 3 tahun.
Mai Dong membenci Muji karena cuaca ekstrim sewaktu musim dingin. Mai Dong melamar Manna, namun Manna bercerita kepada mentornya, Lin, dan meminta pendapat mengenai hal tersebut. Lin setuju dengan Manna, menikah cepat-cepat di tengah gejolak politik saat itu memang tidak bijaksana.
Manna menolak lamaran Mai Dong, dan berkata bahwa suatu saat ia pasti akan menjadi istrinya.
Setelah menyelesaikan pendidikannya, Manna tetap bekerja di Muji, sedangkan Mai Dong pindah ke Fuyuan, dekat dengan perbatassn Rusia, karena stasiun radionya dipindahkan ke sana.
Mereka sering berkirim surat dan bertukar cerita tentang keadaan masing-masing. Tiba-tiba, kabar mengejutkan datang dari Mai Dong yang menulis di suratnya bahwa ia kembali ke Shanghai dan permintaannya dikabulkan. Yang lebih membuat hati Manna hancur adalah Mai Dong memutuskan untuk menikah dengan sepupunya, karena dengan jalur tersebut ia bisa mendapatkan residence card (atau KTP mungkin ya kalau di Indonesia). Jauh sebelum bertemu Manna, Mai Dong ternyata sudah bertunangan dengan sepupunya itu.

Perlahan, hubungan Manna dan Lin semakin intim. Satu adegan yang romantis banget adalah ketika keduanya membereskan koleksi buku Lin, menyampulnya, dan jari-jari mereka secara tidak sengaja bersentuhan.
Lalu, kejadian berikutnya, jari mereka bertautan di tengah-tengah pertunjukan opera Cina. Wish I were Manna.

Pertengahan tahun 60an, departemen politik rumah sakit meminta staff untuk menyerahkan koleksi buku yang berbau ideologi dan sentimen Buorgeois, terutama karangan penulis asing. Lin menyerahkan buku-bukunya namun koleksinya yang tersampul rapi masih tersimpan di kamarnya. Manna berhenti meminjam novel dari Lin karena takut. Saat itu, Mao Zedong sedang menggalakkan ‘Revolusi Kultural’ dengan memperbarui spirit revolusi rakyat Cina yang membawa mereka memenangkan perang saudara 20 dekade lampau. Mao melarang segala bentuk pengaruh budaya borjuis dan kemewahan. Mao ingin memperkuat posisinya di pemerintahan yang sempat melemah. Pada masa itu juga terjadi krisis ekonomi di Cina. Mao membentuk kelompok paramiliter yang beranggotakan anak muda (dinamakan Pasukan Merah) untuk menyerang orangtua dan kaum cendekiawan. Sekolah nasional ditutup.

Tahun 1966, pihak rumah sakit juga mengurangi pemakaian kendaraan dan menggunakan kereta kuda dan berjalan jauh. Mereka terpaksa harus mendirikan tenda di tempat yang dapat dijangkau oleh para serdadu perang yang terluka.

Tahun 1973, belum ada perubahan berarti. Lin Kong memiliki sepupu bernama Liang Meng, ia duda dengan 3 anak. Awalnya, Lin menjodohkannya dengan Manna, namun tak berhasil. Dan seorang petinggi militer yang playboy juga sedang mencari istri. Ia tertarik pada Manna. Namun setelah melihat tulisan tangannya, ia memutuskan hubungan.
Geng Yang, komandan ajudan petinggi tersebut berkenalan dengan Lin ketika keduanya dirawat karena tuberkulosis. Manna yg mendengar cerita Lin tsb berniat utk menjenguk Geng Yang. Ketiganya cepat menjadi akrab. Gen Yang yang manly dan logis memberi masukan kepada Lin yang ingin mengajukan cerai pada istrinya.
Musibah menimpa Manna. Ia diperkosa oleh seseorang yang ia kagumi.
Berita dengan cepat menyebar. Pada saat itu, wanita korban perkosaan dipandang lebih rendah daripada seorang janda. Manna tertekan dengan segala sindiran dan perkataan tajam yang menghunjam harga dirinya.

Setelah 18 tahun menikah, Lin dan Shuyu bercerai di Muji. Tak lama kemudian, Lin dan Manna menikah. Di usia ke 44, Manna hamil. Setelah putra kembarnya lahir, hidup Lin Kong berubah. Segalanya tidak seperti yang diharapkannya.

I have mixed feelings about this novel. Beberapa bagiannya terasa begitu menyentuh. Ada bagian yang membosankan, dan ada juga bagian yang sangat menyebalkan dan terkesan lebay. Karakternya juga cenderung hateable, namun gue tidak keberatan dengan tokoh yang menyebalkan. Gaya penuturan Ha Jin pada awalnya terkesan begitu tergesa-gesa. Novel ini juga minim dialog, dan deskripsinya tidak mendetil, bahkan suka loncat.

Yang gue sukai dari novel ini adalah gue tidak bisa berhenti membacanya karena penasaran. Lalu background sejarahnya yang bikin gue begitu sering meminta bantuan Oom Google. Walau Lin Kong agak labil, dia adalah seorang bookworm yang memiliki koleksi buku-buku bagus. Diantaranya ‘War and Peace’ by Leo Tolstoy, ‘White Nights’ by Fyodor Dostoyevsky, juga ‘The Problem of Leninism’ by Stalin.

Sentuhan kultur Cina juga begitu kental. Seperti: foot-binding, yang sudah jarang dipraktekkan di tahun 50-60an, namun Shuyu masih dipaksa untuk mengikat kakinya. Juga disebutkan bahwa kebanyakan rakyat Cina lebih suka untuk memiliki anak laki-laki ketimbang anak perempuan karena faktor penerus keluarga.

Seandainya novel ini ditulis lebih detil dan tidak loncat-loncat, mungkin gue akan tambah satu poin lagi.

quotesCan good looks feed a family?

Another year? How many years do you have in your life?

He remembered that in Old China some rich men had several wives.

As a married man, why did he have to live like a widower? Why couldn’t he enjoy the warmth of a family? If only he hadn’t agreed to let his parents choose a bride for him. If only his wife were pretty and her feet had not been bound. Or if only she and he had been a generation older, so that people in the city wouldn’t laugh at her small feet.

Then, falling deeper into his dream, he saw a spacious home, which had a study full of hardcover books on oak shelves and several framed pictures on the walls.

I don’t understand why the Russians always wrote such fat novels.

You really don’t want to sleep with her? the voice persisted. No, honestly no. I love her and am attached to her, but that has nothing to do with sex. Our love is not based on the flesh.

A third party is like a semi-criminal.

Without him there would no longer be this home.

But what is a heart? Just a chunk of flesh that a dog can eat.

dream_castcast1cast3cast2

Shawn Yue as young Lin Kong
Shawn Yue sudah diakui kualitas aktingnya. Ia sering bermain dalam film yang digarap sutradara handal, seperti Infernal Affairs. Perawakannya juga cocok untuk menjadi dokter Lin Kong yang kurus dan tinggi.

Ariel Lin as young Manna Wu
Ariel sering berperan sebagai gadis lucu dan ceria. Gue pengin melihat dia sebagai Manna yang lugu dan sedikit serius.

Vanness Wu as Mai Dong
Vanness lebih sering berperan sebagai pria ceria, anak orang kaya dan menyenangkan. Gue pengin melihat dia sebagai Mai Dong yang menyebalkan. Memang porsi Mai Dong hanya sedikit, namun cukup melekat karena sifatnya yang mengesalkan membuatnya gampang diingat.

Li Bing Bing as young Shuyu
Li Bing Bing juga merupakan salah satu prominent actress dengan kualitas akting yang baik. Ia pasti cocok berperan sebagai Shuyu, gadis desa yang sederhana dan menurut pada suami.

Tony Leung Ka Fai as dr. Lin Kong
Entah mengapa, saat membaca novel ini, gue sudah membayangkan Lin Kong dengan wujud fisik Tony. Andy Lau terlalu tampan, sedangkan Tony Leung Chia Wai terlalu berkarisma. Takeshi Kaneshiro juga terlalu ganteng. Tony Leung Ka Fai yang paling cocok untuk berperan menjadi dokter ambisius yang terus membujuk istrinya untuk cerai.

Carina Lau as Manna Wu
Sosok Carina yang bersahaja dengan pembawaannya yang anggun sangat mewakili Manna Wu dewasa. Carina juga piawai untuk memerankan WIL tanpa terkesan murahan.

Michelle Yeoh as Shuyu
I adore Michelle Yeoh because she’s capable to play both antagonist and protagonist. Sosok Shuyu yang menua namun menyisakan kepolosan perempuan desa yang sederhana pasti sempurna jika diperankan oleh Michelle Yeoh.

20130330-114838.jpg

Until next time.

20130330-114856.jpg

About lustandcoffee

A housewife, a mother, a passionate literati, a writer, a tea addict & occasional traveler. I also translate some articles for a business magazine. I'm a contributor for Writer's Magz Indonesia.

Posted on July 30, 2013, in Uncategorized and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 6 Comments.

  1. eh ada filmnya kak. kayaknya menarik nih

  2. Omaygad…covernyaaaaa…. :*

  3. ahhh vanes wuuu😀 ini hisfic tapi romancenya kentel juga ya yus. jarang baca buku cina nih, jadi tertarik sama sejarahnya juga…

    • Iya astrid, vanness yang bibirnya yummy ituh😄

      Kadar romancenya lebih banyak daripada sejarahnya walau nggak kentel2 amat sih. Masih rada kurang greget nih tulisannya yang di sini. Semoga di buku lain lebih ngejedar😀

      Sent from my iPad

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: