[Book Review] Notasi by @Miss_Morra @Gagasmedia

book_infonotasi

book_blurbRasanya, sudah lama sekali sejak aku dan dia melihat pelangi di langit utara Pogung.
Namun, kembali ke kota ini, seperti menyeruakkan semua ingatan tentangnya; tentang janji yang terucap seiring jemari kami bertautan.

Segera setelah semuanya berakhir, aku pasti akan menghubungimu lagi.

Itulah yang dikatakannya sebelum dia pergi.
Dan aku mendekap erat-erat kata-kata itu, menanti dalam harap.
Namun, yang datang padaku hanyalah surat-surat tanpa alamat darinya.
Kini, di tempat yang sama, aku mengurai kembali kenangan-kenangan itu…

thoughtsNotasi mengambil setting kejadian saat reformasi pecah. Memori gue masih sangat tajam mengingat peristiwa itu.
1998, suatu hari gue terjebak tidak bisa pulang ke rumah. Para mahasiswa dari universitas lain berhenti di depan kampus kami. Banyak yang turun ke jalan Jend. Sudirman, berorasi, meneriakkan agar Soeharto turun. Lalu, terdengar tembakan, ada asap bergulung di depan kampus. Chaotic banget.
Banyak teman yang melakukan demo di gedung MPR. Gue tidak ikut. Alasan gue karena gue tidak suka berpolitik, gue juga tidak suka terkena asap, apalagi tembakan nyasar dari petugas. Banyak yang berdemo, sudah terwakilkan, gue nggak perlu ke sana.

Lalu terjadi pengrusakan, penjarahan, dan pemerkosaan. Berminggu-minggu gue hanya diam di rumah. Bokap juga nggak bisa kerja. Masa itu keadaan kami sulit. Bahan makanan juga sudah habis. Kami hanya bisa makan mie instan, bahkan dijatah sehari dua kali. Miris lah kalau inget kejadian saat itu.

Ketika kembali ke kampus, keadaan sudah sangat berbeda. Banyak teman ras Tionghoa yang tidak kembali ke kampus. Ada kabar, mereka pindah ke Amerika dan Australia. Sedih banget dengernya. Beberapa tahun setelah reformasi lewat, gue pernah mendapat kabar dari seorang teman. Ia bersumpah tidak akan pernah menginjakkan kakinya lagi ke Indonesia. Efek traumatisnya sedemikian dahsyat. Gue ingat, banyak toko dipilox dengan tulisan ‘Milik Pribumi’, nggak penting karena WNI semuanya pribumi menurut gue. Gue benci dengan <em>racism</em>, sampe gue pernah takut untuk mengaku keturunan Cina. Duh, jadi pengin nangis lagi kalo inget diskriminasi/<em>racial slurs</em> yang gue terima sampe gue pernah dianiaya secara fisik (dan verbal) oleh orang tak dikenal gara-gara isu ras.

Balik lagi ke Notasi, gue sama sekali buta dengan keadaan pra dan pasca reformasi di Jogja. Namun, deskripsi Morra mampu membuat gue bisa mengira-ngira seperti apa suasana di sana.
Dan, Chiclets, memorable banget, salah satu permen kesukaan gue selain Chelsea.

Beberapa nama yang ngetop di era Soeharto, seperti Petrus, juga dibahas di novel ini. Jadi ingat tentang cerita seseorang yang pernah bekerja dengan mantan orang nomor satu di Indonesia itu. Soeharto dijuluki <em>’Smiling General</em>, jarang bicara namun mengerikan. Ia pernah berkata, sebaiknya kita tersenyum di depan (musuh kita), lalu tanpa musuh tahu, kita habisi ia di belakang.
Mungkin Soeharto mempelajari buku Tsun Zu’s Art of War ya. Juga majalah Tempo yang dibredel ketika menampilkan cover dengan gambar Soeharto yang ditempel kartu remi.

Nalia, mahasiswi kedokteran gigi yang ayahnya adalah mantan dekan teknik pertanian, terlibat dalam organisasi radio mahasiswa di kampusnya. Karena itulah ia bertemu dengan Nino, mahasiswa fakultas teknis yang menarik perhatiannya.
Kedua fakultas tersebut ‘bermusuhan’. Radio Jawara milik fakultas teknik tidak memiliki izin siaran. Demikian juga dengan Gama FM milik fakultas kedokteran. Singkat cerita, mereka jadi dekat karena aktif di BEM. Sebuah penyerangan saat berlangsung acara di kampus membuat keduanya menjadi semakin dekat. Ada oknum militer yang menyusup di antara penonton dan membuat huru-hara di UGM, gara-gara salah satu karya tulis yang masuk menyinggung presiden. Ciri khas Orba, tidak boleh menghina presiden. Namun, lambat laun, hubungan Nalia dengan Nino semakin dekat. Ketegangan antarfakultas juga melemah karena keadaan membutuhkan mereka untuk bersatu.

Singkat cerita, novel ini bercerita tentang kisah cinta masa lalu yang masih mengganjal.

Masih ada typo di:

Hal. 4: sertalaki-laki
Hal. 8: siarantanpa.
Hal. 8: gelap, Sayang.Ini sudah malam. (ga pakai spasi)
Hal. 9: hari yang cerah,Puncak Merapi … (ga pakai spasi)
Hal. 20: universitasperiode
Hal. 28: mahasiswaTeknik
Hal. 28: membuatkumengerti
Hal. 37: setelah ini,enggan berlama-lama
Hal. 38: Tengkutahu itu
Hal. 40: itubelum
Hal. 42: suarak (mungkin seharusnya suaraku)
Hal. 45: hargaberbagai
Hal. 50: Kecepatannya rendah.Kendaraan itu
Hal. 53: padatahun-tahun
Hal. 53: laki-lakiawal
Hal. 53: baying-bayang
Hal. 55: memengaruhinyasama
Hal. 56: kurasakania
Hal 59: banyak mata mata terarah kepadanya
Hal. 64: kampuskota
Hal. 74: Iaberpaling
Hal. 87: telahmereka
Hal. 93: tahukampanye
Hal. 93:.orang.Apalagi
Hal. 103: Mahasiswayang
Hal. 108. jera.Mungkin

Sebenarnya masih banyak lagi typo yang terdeteksi, namun gue ribet juga kalo nyatetin semuanya. Semoga kalau dicetak ulang sudah bersih dari typo🙂

quotesJangan menangis di depan korban saat kamu menjadi relawan. (hal. 4)

Sebelum kalian bentak-bentak anak orang seolah mereka paling bodoh sedunia, pastikan kalian sudah berprestasi dulu. (hal. 33)

Kemarahan orang-orang terhadap kinerja presiden negara sudah semakin menjadi – sebuah potensi ledakan besar yang tampaknya hanya tinggal menunggu waktu. (hal. 45)

Saat-saat istimewa dalam hidup kita selalu datang tanpa peringatan. ( hal. 52)

Di bawah tekanan emosi rasa takut, marah, sedih, atau jatuh cinta, semua orang pasti menunjukkan warna asli mereka. (hal. 58)

Bahwa sejak pertama negeri ini berdiri, yang diwariskan kepada Presiden Sukarno adalah sisa-sisa perang yang hampir tak dapat dibangun lagi. (hal. 133)

Diskusi untuk Reight Book Club:

1. First Impression

Covernya vintage banget. Gue suka.

2. How did you experience the book?

Terus terang, gue perlu waktu untuk memahami karakter beserta motif dan posisinya serta hubungannya antara dengan satu dengan yang lain. Memasuki halaman 60-an, gue baru ‘mudeng’. Morra piawai memasukkan kalimat yang quotable dan kata-katanya juga indah. Puitis, sedikit nyastra namun nggak mendayu-dayu. This is my first experience with Morra.

3. Characters

Nino itu tipe cowok likeable. Auranya misterius, tinggi, dan manly banget.

Nalia ya cewek banget, yang impulsif dan lebih mengedepankan perasaan daripada logikanya. Agak mengesalkan juga sebenarnya si Nalia ini.

Tokoh-tokoh pendukungnya tidak terlalu dalam digali, ya namanya juga figuran. Morra sepertinya bisa bikin spin off deh dengan menampilkan Tengku dan Lin Lin. Tema percintaan yang beda memang banyak, namun gue masih penasaran dengan cara pengangkatan Morra.

4. Plot

Plotnya menarik, isu yang diangkat tentang radio memang belum banyak digali oleh penulis di sini. Terus terang, ini novel ketiga yang gue baca yang mengangkat tema radio, namun Notasi memang paling detil. Alurnya agak lamban, membuat gue menerka-nerka tentang arah ceritanya. Tokoh utamanya bercerita secara flashback ketika ia kembali ke Yogyakarta, lalu memori di kampus muncul, lalu ia bercerita tentang cinta lamanya.

5. POV

Notasi diceritakan dari sudut pandang Nalia. Novel ini menggunakan single POV.

6. Main Idea/Theme

Tema reformasi memang selalu menarik untuk digali, namun sedikit menakutkan bagi gue. Pengalaman buruk saat itu memang bikin gue selalu bergidik kalau mendengar kata reformasi, tahun 1998, kejatuhan Soeharto. Menurut gue, tema radionya yang lebih menarik minat gue, karena Morra memberikan detil cara mendirikan radio dengan baik dan benar. Sejarah radio juga dibahas sedikit.

7. Quotes

Cek bagian quotes di atas🙂

8. Ending

Gue sempat bertanya-tanya tentang Nino dan Faris, tapi terjawab kok di bab terakhir. Setiap orang punya takdirnya masing-masing🙂

9. Questions

Mor, dapat ide tentang reformasi dan radio itu gimana ceritanya? Lalu, tokoh-tokohnya semua rekaan atau duplikat dari yang benar-benar ada?

Lalu, berapa lama butuh waktu untuk observasi dan menulis novel Notasi?

10. Benefits

Yes, banyak banget benefit membaca buku ini. Selain mempertajam memori tentang peristiwa tahun 1998 itu, gue juga belajar merangkai diksi yang asik, juga jadi tahu tentang sejarah radio. I’m a sucker for history. Peristiwa Malari tahun 1974 juga dibahas, membuat gue jadi kepengin baca buku-buku sejarah terbitan Komunitas Bambu.

Well, done, Mor. Ditunggu buku selanjutnya ^^

20130330-114838.jpg

20130330-114856.jpg

About lustandcoffee

A housewife, a mother, a passionate literati, a writer, a tea addict & occasional traveler. I also translate some articles for a business magazine. I'm a contributor for Writer's Magz Indonesia.

Posted on July 30, 2013, in Uncategorized and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 7 Comments.

  1. buku ini kekecewaan aku banget. typonya luar biasa :(((((((((((
    padahal aku megang buku ini dan udah ngedit bolak-balik, masalah teknis tapi menyebalkan. spasi nempel itu apalagi.

  2. nah, kebetulan editornya udah turun komen😀

  3. I recommend Forgiven-nya, Mbak! Karya Mbak Morra juga. Entah kenapa, mudah sekali tersihir dan susah sekali move-on dari tokoh utama cowoknya, Will–apa karena saya masih abg, ya._.–tapi novel itu novel pertama yang buat saya jatuh cinta sama tulisan Mbak Morra. Hope you like it, too!:D

  1. Pingback: July Wrap-Up Post | reightbookclub

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: