[Book Review] Dengarlah Nyanyian Angin by Haruki Murakami @penerbitKPG

book_infohearthewind

book_blurb

 

“Tidak ada kalimat yang sempurna. Sama seperti tidak ada keputusasaan yang sempurna”

Dalam kisah ini, tokoh Aku pejantan tangguh tapi terobsesi dengan seorang penulis Amerika yang mati bunuh diri. Kekasih Aku gadis manis dan bersahaja tapi tak ragu-ragu menggugurkan janin dalam kandungannya, yang entah siapa ayahnya. Sobat kental Aku, Nezumi, anak hartawan tapi muak dengan kekayaan dan menenggelamkan diri dalam alkohol. Mereka bertiga melewati delapan belas hari yang tak terlupakan pada suatu musim panas di sebuah kota kecil di tepi laut.

Dengarlah Nyanyian Angin bercerita tentang anak-anak muda dalam arus perbenturan nilai-nilai tradisional dan modern di Jepang tahun 1960-1970-an. Dengan ringan, Haruki Murakami berhasil menggambarkan sosok kaum muda Jepang yang antikemapanan dan tak memiliki bayangan ideal akan masa depan.

 

thoughtsAkhirnya, gue baca juga bukunya Murakami setelah mendengar rave dari teman-teman sesama pembaca buku. Novel ini sebenarnya tipis dan bisa habis dibaca dalam satu-dua kali duduk. Tapi, gue menghabiskan dua hari karena ingin meresapi rangkaian kata Oom Murakami yang sarat dengan perenungan.

Novel ini premisnya sederhana banget. Seorang pemuda menjalani salah satu fase dalam hidupnya. Ia sering hang out di bar milik Jay, pria keturunan Cina yang memiliki kemampuan bahasa Jepang lebih baik dari si pemuda 21 tahun. Si pemuda itu memiliki seorang sahabat bernama Nezumi, seorang anak orang kaya yang galau dan akhirnya menjadi seorang novelis. Si pemuda itu juga terobsesi dengan penulis yang mati bunuh diri bernama Derek Heartfield.

Si pemuda bertemu dengan seorang gadis yang sebelah tangannya memiliki empat jari. Si gadis itu bekerja di toko piringan hitam. Hubungan si pemuda dan si gadis agak awkward. Novel ini juga banyak memuat misteri, seperti ketika si gadis menggugurkan kandungan yang entah siapa ayahnya. Lalu, seseorang di masa lalu si pemuda pernah memiliki piringan hitam California Girls-nya Beach Boys. Dan lagu tersebut sering disebut dalam buku ini.

Tidak ada konflik yang berarti, dan gaya penulisan Murakami juga tidak meledak-ledak. Plot novel (atau novella ya) ini cenderung datar, namun gue sangat terpesona dengan rangkaian kata yang indah namun tajam dan menusuk, juga sarat perenungan. Lalu, setelah membaca rangkaian kalimat itu, gue jadi ikut berpikir dan manggut-manggut. Ada kalanya gue tersenyum membaca halaman tertentu. Sedikit humor diselipi oleh Murakami, namun tidak kental dan terlalu banya. Sedikit saja. Seperti garam yang menghiasi bibir gelas tequila.

Setelah membaca bio Murakami yang ternyata memiliki jazz bar bersama istrinya, gue jadi ‘ngeh’ mengapa setting-nya banyak mengambil di Jay’s bar yang dihiasi asap rokok dan bir. Referensi novel klasik, film, dan lagu-lagu lawas era tahun 60an juga menghiasi novel ini. Kayaknya sangat asik jika bisa membaca novel ini sambil menyesap bir di tepi pantai. Atau segelas martini juga will do. Atau, bisa juga melawat JohnnyRockets di PIM untuk menikmati jukebox a la Jay’s Bar, walau suasananya jauh berbeda.

 

quotes

Apabila kau tidak bisa mengekspresikan sesuatu, berarti sesuatu itu tidak pernah ada. (hal. 20)

Kata-kata dokter itu benar. Peradaban adalah informasi. Tatkala sesuatu yang semestinya diungkapkan dan diinformasikan sudah tidak ada, maka peradaban akan berakhir. Trek…OFF. (hal. 21)

“Kamu sedang apa sekarang?”

“Aku sedang membaca buku.”

“Ck,ck,ck. Nggak baik tuh. Kamu harus mendengarkan radio. Kamu justru akan semakin terasing kalau membaca buku.” (hal. 41)

Ada pepatah nih, kamu boleh memberi piutang kepada perempuan, ugh, tapi jangan sekali-kali berutang. (hal. 42)

Orang yang baik tidak akan menceritakan kekacauan yang ada di dalam keluarganya kepada orang lain. (hal. 57)

Dimana pun tidak akan ada manusia yang tangguh. Yangada hanyalah manusia yang pura-pura tangguh. (hal. 90)

Kebohongan dan diam merupakan dosa besar yang merajalela dalam masyarakat sekarang. (hal. 98)

 

booktrack1. California Girls – The Beach Boys

2. Return to Sender – Elvis Presley

 

20130330-114930.jpg

Until next time!

 

20130330-114856.jpg

About lustandcoffee

A housewife, a mother, a passionate literati, a writer, a tea addict & occasional traveler. I also translate some articles for a business magazine. I'm a contributor for Writer's Magz Indonesia.

Posted on July 18, 2013, in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. astagaaa buku ini juga udah diterbitin KPG ya..duhh pengen lagi

    btw, udah tiga buku sama ini semuanya selalu bertebaran musik dan buku klasik, trus bar minuman, jazz
    kayaknya si om murakami bener-bener mencurahkan ciri khas dirinya di setiap tulisannya deh makanya semuanya mirip

  2. udah lama ingin baca buku ini
    Gramedia cetak ulang lagi mba terjemahannya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: