[Book Review] Bangkok: The Journal by @moemoerizal @Gagasmedia #unforgotTEN

book_infobkk

book_blurb

Pembaca tersayang,

Siapkan paspormu dan biarkan cerita bergulir. BANGKOK mengantar sepasang kakak dan adik pada teka-teki yang ditebar sang ibu di kota itu. Betapa perjalanan tidak hanya mempertemukan keduanya dengan hal-hal baru, tetapi juga jejak diri di masa lalu.

Di kota ini, Moemoe Rizal (penulis Jump dan Fly to The Sky) membawa Edvan dan adiknya bertemu dengan takdirnya masing-masing. Lewat kisah yang tersemat di sela-sela candi Budha Wat Mahathat, di antara perahu-perahu kayu yang mengapung di sekujur sungai Chao Phraya, juga di tengah dentuman musik serta cahaya neonyang menyala di Nana Plaza, Bangkok mengajak pembaca memaknai persaudaraan, persahabatan, dan cinta.

เที่ยวให้สนุก, tîeow hâi sà-nùk, selamat jalan,

EDITOR

thoughtsBuku buntelan #KadoUntukBlogger kedua yang gue lahap. Serial STPC yang ini bukan buku petama, malah yang ketiga. Berhubung nggak ada keterkaitan antara satu dengan yang lain, gak masalah sama sekali kalo bacanya ngacak.

Gue tertarik baca novel karya Moemoe Rizal ini atas rekomendasi dari Iif. Pas udah setengah baca, ternyata ratingnya bagus di Goodreads. Lalu, pas gue mendapat email sebagai salah satu blogger yang beruntung, ada pilihan buku ini. Tanpa ragu-ragu, gue pilih buku ini sebagai salah satu kado dari Gagas. Thanks banget, Gagasmedia untuk kadonya.

Edvan sudah sepuluh tahun tidak bertemu dengan ibu dan adiknya. Alasannya sendiri kurang begitu jelas, hanya disebutkan perihal warisan ayahnya.
Hingga pesan SMS yang masuk dari Edvin, adiknya, yang mengatakan ibunya sudah meninggal dunia (entah dari mana Edvin mendapat nomor kakaknya).
Edvan terperangah mendapati adiknya dengan sosok yang berbeda, dan minta dipanggil Edvina.
Bersama-sama mereka terbang ke Bangkok untuk mencari ‘warisan’ ibu mereka yang tersebar di berbagai penjuru kota di sana.
Berbekal nomor telepon yang diberikan oleh pramugari Indonesia Airbridge, Edvan menelusuri kota Bangkok dipandu oleh Charm, perempuan Thai yang fasih berbahasa Indonesia dan Inggris.

Edvan adalah tipe laki-laki dengan ego tinggi. Ia seperti balas dendam terhadap ibunya (mungkin) dan berhasil menjadi arsitek ternama. Ia juga keras kepala dan sangat ingin menunjukkan kemaskulinannya dengan menyebut bahwa ia punya koleksi film porno pemberian temannya, Stevan. Edvan, Stevan, quite a rhyme.
Honestly, tipe cowok kaya gini yang gue hindari di dunia nyata karena dunianya hanya diisi dengan dia, dia dan dia dengan segala kehebatannya. Megalomaniak. Gue jadi membayangkan Tom Cruise waktu menulis kata megalomaniak itu.

Sedangkan Edvin lebih membumi, sensitif dan sabar, mewarisi sifat ibunya.

Mereka bertemu untuk membicarakan perihal peninggalan ibu mereka. Awalnya, Edvan tidak yakin tentang perjalanannya ke Bangkok demi mencari jurnal-jurnal lain yang ditulis ibunya itu. Petualangan demi petualangan juga dialami oleh Edvan. Mulai ke temple, lady boy bar, hingga tempat muaythai underground.
Gue larut dalam petualangan Edvan, Charm yang dibantu oleh si tengil Max keliling Bangkok demi mendapatkan potongan jurnal yang akhirnya lengkap.

10 Things I Love about this novel:
1. Cara bertutur Moemoe yang mengalir dan blak-blakan. I suka (pakai bahasa Max)
2. Design covernya sederhana, namun sangat memikat. Good job, Jeffri Fednando. Purple is one of my favorite colors.
3. Ilustrasi novelnya bikin gue betah berlama-lama menatapnya, dan hampir nggak rela membuka halaman terakhir. Buku ini bisa selesai dalam dua kali duduk, namun gue memilih membacanya perlahan demi menikmati ilustrasinya.
4. Setting-nya di Bangkok. Gue punya pengalaman manis dan pahit di sini. Tapi, lebih dominan manisnya karena gue menghabiskan bulan madu bersama suami di Bangkok dan Phuket. Selama membaca buku ini, gue serasa dibawa kembali menuju Desember 2008-Januari 2009. Dan gue nggak akan pernah lupa dinner di resto Thai di pinggir Chao Phraya saat sunset.
5. Novel ini membuat gue lapar karena menyebut makanan kesukaan gue, mulai Som Tam, Pad Thai, sampai oyster. Yum!
6. Tokohnya, Edvan, yang semula sangat menyebalkan, asshole bin jerk, berubah menjadi cowok yang (hampir) likeable gara-gara jatuh cinta pada Charm. Perubahannya sangat terasa.
7. Drama keluarga yang disajikan oleh penulisnya menyentuh. Di bab awal, gue sudah berkaca-kaca gara-gara bahasan tentang hubungan Edvan dengan ibunya.
8. Genre novel ini yang nyerempet petualangan bikin gue betah membaca sambil memikirkan isi jurnal selanjutnya yang ditulis oleh Artika. Oiya, Artika adalah salah satu nama tokoh favorit gue. Indonesia banget, namun nggak kuno.
9. Gue sangat suka dengan tokoh Khun Niran yang digambarkan memiliki wajah yang jauh dari sempurna namun hatinya seperti emas. Bab Khun Niran adalah salah satu bab yang paling gue suka dan membuat gue terharu.
10. Selain Khun Niran, beberapa tokoh lain yang likeable adalah Charm, Max, dan Artika (melalui tulisan di jurnalnya). Kelihaian Moemoe yang lain adalah menciptakan tokoh yang likeable dan memorable.

Kekurangan novel ini:
1. Banyak kalimat/kata dalam bahasa Inggris yang kurang tepat (I’m not a grammar nazi, jadi nggak mau menjabarkannya di sini. Semoga dalam cetakan berikut bisa diperbaiki).
2. Banyak kalimat dalam bahasa Thai yang tidak ada terjemahannya, bikin gue bingung menebak-nebak artinya.
3. Masih ada sedikit typo dan ketidakkonsistenan penulisan seksama vs saksama, juga noodlesoup vs noodle soup

Will I recommend this novel to anyone? Definitely! Serius, liburan lebaran bakal lebih seru dengan membaca buku ini. Gara-gara buku ini, gue mau membaca seluruh serial STPC.

Satu kata yang bisa mewakili novel ini adalah charming.

quotes

Di hadapanku, duduk seorang pria yang selama tiga puluh tahun terakhir mengumpulkan uang untuk bertemu ibu. Sementara aku, sepuluh tahun terakhir mengumpulkan uang untuk menjauhi ibu. (hal. 165)

Aku nggak tertarik wisata bangunan artistik seperti di Eropa. Itu semua buatan manusia. Aku ingin wisata alam. Wisata yang bangunannya duciptakan langsung oleh Tuhan. (hal. 94)

Aku nggak milih untuk cinta dia. (hal. 259)

Buddha melarang pria berpakaian seperti wanita. Tapi yang kuinginkan hanyalah anakku bahagia. (hal. 297)

20130323-114025.jpg

Mau dapetin novel ‘Bangkok’ karya Moemoe Rizal?

Follow akun twitter: @yuska77

Petunjuk ada di timeline gue. Kuis ditutup jam 23:55 besok Senin tanggal 15 Juli 2013.

Happy Sunday!

20130622-091605.jpg

About lustandcoffee

A housewife, a mother, a passionate literati, a writer, a tea addict & occasional traveler. I also translate some articles for a business magazine. I'm a contributor for Writer's Magz Indonesia.

Posted on July 14, 2013, in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. wah,.. sepertinya menarik nih.
    nanti coba cari deh (another guilty pleasure nih).
    btw. Edvin itu ce apa co?

  2. Sepakaat banget dengan beberapa poin kenapa Mbak Yuska suka novel ini:
    poin 1: Yeah, good job Moemoe Rizal, ngalir banget dan seru!
    Poin 4: setting Bangkok! Meski cuma pernah 3 hari di sana, tapi gue jadi kangen Bangkok. BTS, Siam, Mango Sticky Rice, Tom Yum.. oh my…
    Poin 6: Well, karakter asshole dan jerk emang tokoh cowok yang banyak disukai cewek saat baca novel, kan, beda kalo ketemu di dunia nyata. Hihi..
    Poin 7: Ho oh drama keluarga dan pesan2 moralnya bikin gue tersentuh
    Poin 8: Yep, whatta adventure! Sempeet sih sedikiiit bosan dg kisah pencarian jurnal yg kayaknya gak penting2 amat, tapi lebih banyak suka dan terbawanya sama petualangan Edvan. hoho..

    Good review, Mbak Yuska, anyway this is mine:

    http://dinoybooksreview.wordpress.com/2013/07/14/bangkok-by-moemoe-rizal/
    🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: