[Book Review] Murjangkung by A.S. Laksana @Gagasmedia #unforgotTEN

book_infomurjangkung

book_blurb

“Murjangkung ingin mengatakan bahwa: teks fiksi sebaiknya membuka keran imajinasi para pembaca untuk memiliki dunia
dan atmosfer cerita yang khas….”—Harian Jawa Pos

Mereka datang 243 tahun sebelum negeri mereka menemukan kakus. Mula-mula mereka singgah untuk mengisi air minum dan membeli arak dari kampung Pecinan di tepi barat sungai; lima tahun kemudian mereka kembali merapatkan kapal mereka ke pantai dan menetap di sana seterusnya. Tuan Murjangkung, raksasa berkulit bayi yang memimpin pendaratan, membeli dari Sang Pangeran tanah enam ribu meter persegi di tepi timur sungai. Di sana ia mendirikan rumah gedong dan memagar tanahnya dengan dinding putih tebal dan menghiasi dinding pagarnya dengan pucuk-pucuk meriam.—“Bagaimana Murjangkung Mendirikan Kota dan Mati Sakit Perut”.

Murjangkung: Cinta yang Dungu dan Hantu-Hantu adalah kumpulan cerpen kedua A.S. Laksana setelah Bidadari yang Mengembara (buku sastra terbaik tahun 2004 versi Majalah Tempo).

thoughtsSenang banget rasanya terpilih menjadi salah satu dari 30 blogger yang mendapat swag dari Gagasmedia berisi 10 buku pilihan (I only got 9 though, kata mas Omem ketinggalan satu. Semoga nggak nyasar 1 buku lagi ^^).

Gue memilih untuk membaca buku ini untuk di-review pertama karena proofreader-nya, Jia Effendi, merekomendasikan buku berisi kumpulan cerita pendek ini via Goodreads. Setelah melihat ratingnya juga yang tinggi (dan buku ini high demand di kalangan pembaca sastra), gue nggak ragu lagu untuk membacanya.

Sebenarnya gue bukan penggemar kumpulan cerpen (walau beberapa kali terlibat dalam proyek antologi). Dulu gue sempat meringket mendengar kata ‘sastra’ yang pasti bikin kepala berdenyut. Langsung terbayang rangkaian kata puitis yang sulit dicerna. Namun, tahun belakangan gue membiasakan diri untuk membaca genre sastra Indonesia, senggaknya satu buku per tahun. Gue berjanji pada diri sendiri untuk memperluas genre bacaan karena yakin akan manfaatnya.

Buku ini berisi 20 cerita pendek berikut:

1. Bagaimana Murjangkung Mendirikan Kota dan Mati Sakit Perut

Cerpen pertama ini berkisah tentang Murjangkung, si raksasa berkulit bayi, yang akhirnya mampu mendirikan kota jaman Portugis melawat Indonesia. Bau era itu terasa. Para tokohnya adalah pelaut, sama seperti bangsa Portugis. Juga disebutkan Lapangan Banteng yang dulu disebut sebagai Lapangan Singa. Entah, cerpen ini berdasarkan sejarah yang sebenarnya, atau historical fiction, atau mungkin  alternate version. Karena Tugu Singa didirikan pada masa pendudukan Jepang. Diceritakan, Murjangkung mendirikan gereja untuk menampung anak buahnya yang kesepian. Pikiran gue langsung tertuju pada gereja Katedral. Kemungkinan seting cerita ini di Kampung Tugu, Koja, Jakarta Utara, di mana banyak orang Portugis yang menetap saat itu.

Banyak adegan jorok seperti melempar ludah dan berak (ewwww), tapi sebagai pembuka, cerita pendek ini cukup memikat. Ada pertempuran, konspirasi, dan dictatorship.

2. Otobiografi Gloria

Gloria adalah bayi yang hanya sempat menghirup oksigen di dunia dalam waktu sekejap. Nenek dan kakeknya terobsesi ingin memiliki cucu, hingga mendatangi tempat keramat. Paman Gloria adalah bujang lapuk, dan hidup membujang hingga ia mati. Bibi Gloria tidak dikaruniai anak walau sudah menikah cukup lama, dan ibu Gloria , satu-satunya yang bisa memberikan cucu pada kakek nenek Gloria, hamil tanpa suami.

Cerpen ini adalah salah satu cerpen paling tragis di buku ini.

3. Dongeng Cinta Yang Dungu

Ini cerpen lucu tentang body swap. Entah apa yang dilakukan si belatung. Mungkin ia mencampur sesuatu yang sudah diberi mantra ke dalam minuman Fira hingga terjadi penukaran tubuh.

4. Perempuan Dari Masa Lalu

Menurut gue, Seto itu laki-laki galau dan naif, yang menganggap kehidupan masa lalu itu benar-benar ada. Yang lebih menggelikan, tiap kali ia melihat wanita di halte, ia merasa dekat, lebih dekat lagi, dan benar-benar dekat. Endingnya bikin gue ngakak.

5. Bagaimana Kami Selamat dari Kompeni dan Sebagainya

Cerpen yang satu ini luput dari memori, jadi harus dibaca ulang. Lalu, setelah dibaca ulang, gue masih bingung dengan inti ceritanya.

6. Seto Menulis Peri, Pelangi, dan Para Putri

Mungkin ini adalah cerita lanjutan kisah Seto. Gara-gara dipaksa menjadi tentara, ia minggat dari rumah. Seto menjadi juru selamat anak Mayor, si berandal Pramono, dari keroyokan orang, kemudian ia disuruh tinggal di rumah Mayor itu sebagai balas jasa. Ia ikut lari pagi bersama Mayor seminggu sekali, mencuci mobilnya, juga mengawal Pramono. Kisah pendek tentang drama keluarga Mayor ini sepertinya lumrah terjadi di kalangan keluarga pejabat.

7. Teknik Mendapatkan Cinta Sejati

Menceritakan tentang Seto (entah tokoh yang sama dengan dua cerpen sebelumnya atau bukan) dan kegemarannya berpindah agama karena perempuan. Pemikirannya sederhana, tapi benar juga.

8. Dua Perempuan di Satu Rumah

Masih berkisah tentang Seto dan masa lalunya yang menyedihkan. Ia pernah dibully karena ayahnya menjadi transgender. Ketika ia dewasa, ia yang sering membully transgender. Cerpen ini getir dan membenarkan tentang adanya siklus dalam kehidupan; seorang yang disakiti semasa kecil akan menyakiti orang lain ketika ia dewasa.

9. Bukan Ciuman Pertama

Cerita kesembilan ini agak mengerikan. Entah kutukan, takdir, atau ada sesuatu hal lain yang terjadi yang menyebabkan anak si narator memiliki ciri fisik yang sama dengan seseorang yang ia temui di tikungan.

10. Tuhan, Pawang Hujan, dan Pertarungan Yang Remis

Salah satu cerita favorit gue. Alit yang semula merasa tak punya bakat, ternyata berbakat menjadi pawang hujan. Namun ia kecewa karena bakatnya tidak mampu menjerat gadis impian. Cerpen yang paling sakses bikin gue ngakak.

11. Kisah Batu Menangis

Kalau cerpen sebelumnya sakses bikin gue ngakak, cerpen yang ini sakses bikin gue hampir ngejengkang. Intinya adalah tentang pria yang tidak mampu mengurung burungnya dalam sangkar. Lalu, skandal Maria Eva dan Yahya Zaini sepertinya dibahas juga di sini. Pesan moral dari cerita ini: cheating is addictive, so don’t you dare doing that.

12. Seorang Utusan Memotong Telinga Raja Jawa

Satu cerpen lagi yang gue nggak ngerti maksudnya apa. Absurd.

13. Lelaki Beristri Batu

Laki-laki yang sakit hati dan merasa dikhianati istrinya yang kemudian tua sebelum waktunya dan menemukan istri dan anaknya menjadi batu. Satu cerita absurd yang hanya gue pahami setengahnya saja.

14. Efek Sayap Kupu-Kupu

Banyak tokoh dalam cerpen ini yang tidak menyukai ayahnya, termasuk Alit. Ketika ia memaafkan ayahnya, cerita berakhir happy ending.

15. Ibu Tiri Bergigi Emas

Cerpen ini membuat mata gue berkaca-kaca. Gue bisa merasakan kepedihan Alit ketika ditinggal ibunya yang tak kembali lagi. Gue pernah membahas tentang ibu yang tega meninggalan anaknya sama suami beberapa wakt lalu, sesuatu yang nggak akan pernah gue pahami.

16. Seorang Lelaki Telungkup di Kuburan

Mengambil setting waktu peristiwa tsunami dahsyat di Aceh, kembali bercerita tentang kematian dan hantu gentayangan.

17. Malam Saweran

Seorang pejabat yang mengambil istri dengan campur tangan dukun, tidak mampu membahagiakan istrinya dan mencari tempat hiburan untuk melampiaskannya. Menyedihkan. Salah satu cerpen favorit juga.

18. Cerita Untuk Anak-Anakmu

Gue jadi ingat Kristina dangdut yang pernah menikah dengan anggota DPR, lalu tak lama cerai karena tak tahan. Kira-kira cerita ini seperti itu. Dan laki-laki berwajah bopeng bekas cacar sepertinya memang deskripsi mantan suami Kristina yang sempat bolak-balik masuk bui itu.

19. Kuda
Alit mendatangi tempat judi dan jatuh cinta pada seorang pelacur di sana. Pelacur itu menyebutnya kuda.

20. Peristiwa Kedua, Seperti Komidi Putar

Seorang perempuan mengetuk pintu rumah orang untuk meminta pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga, lalu ia diterima bekerja di sana. Dua tahun kemudian, ia tidur dengan majikannya, hamil, lalu harus merelakan anaknya diasuh oleh orang lain. Ada rasa mual saat membaca cerpen ini, sesuatu yang dirasa jika naik komidi putar terlalu lama.

Covernya simpel dengan warna sederhana, namun berkesan klasik dengan sentuhan kapal dan gelombang diujung kiri dengan posisi terbalik. Tidak biasa tapi asik banget, sesuai dengan cerita Murjangkung yang seorang pelaut.
Lalu, tagline-nya yang mengambil salah satu judul cerpen, yaitu “Cinta Yang Dungu”. Such a brilliant idea.
gue takjub membaca judul-judulnya cerpennya yang ‘luar biasa’ atau di luar kebiasaan. Tidak lazim tapi mungkin itu ciri khas penulisnya.

Banyak kalimat yang quotable. A.S. Laksana adalah salah satu penulis cerdas yang mampu menyelipkan humor dan sedikit sarkasme dalam tulisannya. Tajam tapi legit.
Tokoh favorit penulis (sepertinya) adalah Seto dan Alit, karena nama keduanya sering disebut dalam beberapa cerita pendek. Kesamaan kedua tokoh itu adalah: percaya pada kata orang. Seto yakin akan kehidupan masa lampau, hingga ia merasa dekat dengan beberapa wanita, sedangkan Alit percaya akan perkataan pawang hujan bahwa ia memiliki bakat untuk menjadi pawang hujan. Kesamaan kedua tokoh tadi selain itu adalah kesukaannya mendatangi tempat pelacuran. Kesamaan terakhir, Seto dan Alit sama-sama tidak menyukai ayah mereka.
Fakta menarik tentang Alit: ia suka sekali ke kamar kecil.

Masih ada typo di halaman 72, namun tidak fatal.

Banyak perselingkuhan dalam perkawinan, kebobrokan pejabat, lalu juga dunia pelacuran, kematian, dan karma yang menjadi tema dalam kumpulan cerita pendek ini.
Diksinya apik, tulisan A.S. Laksana tajam dan sindirannya tentang kebobrokan moral memuat unsur komedi, bisa melemaskan otot-otot di saat tegang.

Overall, gue sangat menyukai buku ini dengan segala keabsurdannya.

Satu kata yang gue nggak mengerti dan tidak ditemukan di KBBI:

buyuten –> ternyata artinya shaky-shaky gejala Parkinson, ditemukan di Wiki Jawa x_x
Itu tandanya bahwa gue harus belajar bahasa Jawa, salah satu bahasa tersulit di dunia.

quotes

Seorang lelaki, jika tidak menjadi raja di rumah sendiri, niscaya akan menjadi setan di jalanan. (hal. 57)

Dengan berpindah agama, kau sekadar berpindah dari satu kebaikan ke kebaikan lain. (hal. 66)

Kata orang kau tak boleh melihat pemandangan yang terlalu buruk saat istrimu hamil. (hal. 87)

Kenangan pahit akan melekat lebih kuat dalam pikiran ketimbang pikiran manis. (hal. 113)

Hanya para pendengki yang suka bergunjing dan aku tidak akan mengalami cedera parah karena digunjingkan oleh para pendengki. (hal. 180)

Ada problem kesastraan pada anggota DPR; ia tak enak dituliskan, apalagi dijadikan tokoh utama sebuah cerita. (hal. 190)

Pembantu lama itu sebetulnya berniat kembali, tetapi ia seperti lupa jalan. (hal. 204)

20130330-114930.jpg

20130330-114856.jpg

About lustandcoffee

A housewife, a mother, a passionate literati, a writer, a tea addict & occasional traveler. I also translate some articles for a business magazine. I'm a contributor for Writer's Magz Indonesia.

Posted on July 11, 2013, in Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. review ini sukses bikin saya pengen punya bukunya! thanks Yuska! ^^

  2. kebetulan baru baca bukunya, dan sy setuju dengan rate nya..
    ngakak pas baca kata buyuten..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: