This is How I Write a Review

20130627-073335.jpg

Menulis resensi selalu menjadi tantangan bagi gue, karena, jujur aja, gue belum mengerti bagaimana cara menulis resensi dengan baik dan benar.
Sebelum punya blog, gue menulis resensi di Goodreads. Tapi, jeleknya, I didn’t make it as a habit. Karena di Goodreads tidak ada kewajiban untuk menulis review. Dengan ngeklik tanggal selesai baca, daftar buku yang dibaca otomatis muncul di list.

Lama-lama, gue sadar akan pentingnya menulis review. Penting karena buku yang sudah kita beli dan dibaca patut mendapat apresiasi. Walau hanya satu – dua kalimat, puas atau tidak puas, rasanya setiap buku berhak mendapat review dari pembaca. Gue jadi membayangkan penulisnya bersusah-susah selama proses menulis buku, belum lagi risetnya. Menulis resensi tidaklah serumit itu. Jadi, gue mulai membiasakan diri untuk menulis resensi setelah habis membaca.

Gue selalu membaca di kamar. Kadang-kadang di ruang tengah kalau kamar sedang dibersihkan. Peralatan wajib ketika mereview adalah tablet. Karena sangat penting bagi gue untuk mencatat poin penting dan kutipan yang akan ditampilkan dalam resensi.

Selama membaca, gue pasti akan sibuk membuat catatan di tablet, kemudian lanjut baca lagi. Selain menyimpan poin penting dan catatan berisi kutipan, cara tersebut memudahkan gue untuk mengingat plot, juga membuat gue lebih mengerti akan isi cerita. Seperti halnya saat kuliah, gue biasa mencatat kembali mata kuliah yang diajarkan di kelas. Jadi, untuk satu mata kuliah, gue selalu punya dua buku catatan, yang satu berisi coretan kasar, yang satu versi rapinya. Demikian juga saat mereview. Gue baru sadar kalau kebiasaan dulu terbawa hingga sekarang.

Sebelum posting, gue akan membaca ulang hingga dua-tiga kali sebelum klik tombol publish. Karena gue sering typo, gue merasa wajib untuk cek dan ricek ketikan. Kedua, ketika membaca ulang, biasanya gue akan ingat hal-hal yang terlewat, jadi bisa sekalian dimasukkan.

Isi review sendiri biasanya menilai cover buku, gaya bertutur penulis, plot, juga karakter. Gue berusaha untuk mengimbangi poin positif dan negatif sebuah buku. Kalau gue merasa sangat puas, gue merasa tidak perlu mencari-cari kesalahan buku tersebut. Gue sendiri tidak memposisikan gue sebagai kritikus (because I’m not). Bahasa yang gue gunakan juga seperti ini adanya, karena gue tidak pandai berformal-formalan, baik di dunia maya maupun dunia nyata.

Sejak bergabung dengan BBI, gue banyak belajar dari postingan teman-teman. Gue juga membaca beberapa artikel cara meresensi yang baik dan benar. Gue merasa mendapat banyak ilmu dari sana. Bagi gue, menulis sama pentingnya dengan membaca. Menulis adalah terapi bagi jiwa, sarana mengeluarkan uneg-uneg dan pikiran yang tumpang-tindih di kepala, termasuk pikiran berisi cerita fiksi. Selain itu, menulis review juga adalah sarana latihan bagi gue untuk bisa menulis lebih baik lagi.

20130330-114856.jpg

Pic from favim.com
Membalas tantangan dari Aul

About lustandcoffee

A housewife, a mother, a passionate literati, a writer, a tea addict & occasional traveler. I also translate some articles for a business magazine. I'm a contributor for Writer's Magz Indonesia.

Posted on June 27, 2013, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: