[Book Review] Petals From The Sky by Mingmei Yip

book_infopetals

book_blurb

Di usia kedua puluh tahun, Meng Ning memutuskan untuk menjadi biksuni (pendeta wanita agama Buddha) dan langsung ditentang keras oleh ibunya. Di mata beliau, kehidupan membiara tak jauh-jauh dari penderitaan: tak ada kebebasan, hidup tanpa cinta dan daging. Tapi, dimata Meng Ning, menjadi biksuni adalah kesempatan berharga untuk memegang kendali penuh atas takdir hidupnya, dan menikmati sepuas-puasnya belajar musik, seni, puisi – sesuatu yang tidak ditawarkan oleh ikatan perkawinan.

Ditemani mentornya, Yi Kong, Meng Ning akan menghabiskan sepuluh tahun belajar di luar negeri, membiasakan diri hidup selibat, dan mempersiapkan diri untuk hidup membiara. Namun, sebuah insiden kebakaran membelokkan takdirnya ke situasi yang benar-benar berbeda.

Meng Ning jatuh cinta

thou-ghts

Terinspirasi oleh temannya, Yi Kong, Meng Ning memutuskan untuk menjadi biksuni di usia yang masih muda. Ibunya melarangnya. Ia yang menganggap putrinya berparas cantik, mengharapkannya untuk hidup layak dan menikmati kemewahan yang seharusnya ia dapatkan, selain menikahi pria tampan yang mapan.
Namun keputusan Meng Ning sudah bulat. Ia memutuskan untuk menjadi seorang biksuni. Alasannya, ia ingin terbebas dari kekuasaan pria yang menghancurkan, mendapat spiritualitas, mengendalikan kehidupan dan nasibnya sendiri, juga dapat menjalani kehidupan dalam puisi, kehidupan mistis, dan kedewian.

Musim panas 1987, sebelum terjadi Black Monday, yaitu ketika pasar saham dunia hancur lebur, Meng Ning yang sudah berusia tiga puluh tahun dan calon penerima gelar Ph.D dalam bidang sejarah seni Oriental dari salah satu universitas di Sorbonne, Prancis, mengunjungi Kuil Fragrant Spirit untuk melakukan ibadah menyepi selama tujuh hari dan merasakan pengalaman sebagai biksuni sementara. Sebuah insiden memalukan membuatnya berkenalan dengan seorang pria asing bernama Michael Fuller, dan mereka curi pandang saat makan siang dalam kebisuan.
Teman lama Meng Ning, Yi Kong, menjadi pembicara tamu di kuil tersebut. Setelah sekian lama berpisah, mereka bertemu kembali lewat tatapan mata.
Terjadi kebakaran yang disebabkan oleh seorang anak yatim secara tak sengaja. Michael menyelamatkan Meng Ning dan yang lainnya. Timbul perasaan di hati Meng Ning.
Setelah kejadian itu, Michael mengajak Meng Ning berkencan, namun Meng Ning masih menutupi kedekatannya dengan Michael dari ibunya.

Menggunakan alur maju-mundur, Meng Ning menceritakan tentang orangtuanya yang kerap bertengkar karena ayahnya suka berjudi, lalu Meng Ning yang terjatuh ke dalam sumur. Di situlah ia bertemu dengan Yi Kong, seorang biksuni yang dipercaya oleh penduduk desa sebagai titisan dari dewi Kwan Im. Lalu diceritakan juga bagaimana ayah dan ibu Meng Ning bertemu (yang sesungguhnya menarik jika dibuat novel spin-off-nya).

Sebelum Michael kembali ke New York, ia meminta Meng Ning untuk menemaninya menonton opera Cina. Ditengah-tengah pertunjukan, Michael menyodorkan secarik kertas berisi haiku dan ajakan untuk menikah. Meng Ning yang masih bimbang langsu mengatakan tidak. Michael mendapat kabar bahwa profesor Fulton masuk rumah sakit di Lhasa. Dan ia segera berangkat ke sana.

Untuk beberapa saatm Michael menghilang dari peredaran. Meng Ning diminta Michael untuk menemuinya di New York. Di sana, Meng Ning bertemu dengan Lisa, mantan tunangan Michael, yang juga putri dari profesor Fulton. Dan Philip, mantan kekasih Lisa yang juga teman dekat Michael, memikat Meng Ning dengan pesonanya. Bersama Lisa dan Philip, Meng Ning dibawa untuk berpetualang menjelajahi area tabu yang selama ini tidak pernah dibayangkannya.

Banyak ajaran Buddha yang membuat gue mengerti kenapa seorang penganut agama Buddha tidak mengkonsumsi hewan. Alasannya karena pembunuhan makhluk hidup apa pun akan menghadilkan karma yang buruk. Karena umat Buddha percaya reinkarnasi, dan manusia bisa bereinkarnasi menjadi hewan, bisa saja ayam, sapi, ikan yang kita makan adalah keluarga atau kerabat kita. (Asli jijay banget pas baca bagian ini).

Lalu, ada adegan Michael dan Meng Ning menonton opera Cina. Tahun lalu gue baca novel Farewell My Concubine-nya Lillian Lee yang kental dengan opera Cina. Satu keinginan gue belum tercapai: nonton opera Cina. Harus kesampean. Selain itu, gue juga pengin nyobain nginep di biara, pengin ngerasain hidup zen.

Petals from the Sky bercerita tentang cinta dari berbagai sudut pandang. Setiap tokoh, baik tokoh utama maupun tokoh minor memiliki jalur cinta yang manis, mengesankan, juga scandalous. Setiap tokohnya juga memiliki rahasia yang bikin shocked. Novel ini untuk konsumsi dewasa, kenapa nggak ada labelnya?

Kesimpulan, Petals from the Sky adalah roman yang manis dan gue suka banget. Alurnya yang maju mundur ditulis dengan apik, tidak ada plot yang bolong. Bukan hanya menyajikan cinta, namun filosofi ajaran Buddha dengan segala kesederhanaannya membuat Petals from the Sky begitu sarat dengan perenungan. Lalu, budaya Cina seperti penghitungan tanggal baik untuk menikah, seserahan dalam pernikahan, juga tata cara pemberian warisan membuat novel ini semakin kaya. Walau masih ada sedikit typo, namun tidak mengurangi keindahan alur kata yang ada di dalamnya.
Gue agak heran kenapa novel ini underrated.
Untuk penggemar Asian Lit, baca deh.

quo-tes

Sebenarnya banyak banget kutipan indah dari buku ini, tapi gue share sebagian aja ya.

Apakah kau ingat pada putri kakek buyutmu, yang masuk biara karena dicampakkan oleh tunangannya? Ia tak lagi memiliki harga diri; tak punya nama, tak punya teman, tak punya rambut. (hal. 3)

Secara logika, apalah bedanya antara kepala yang botak dan kepala yang memiliki tiga-ribu-helai-masalah? (hal. 5)

Sesuai dengan kepercayaan kuno Cina yang menyatakan bahwa jika seseorang mewariskan uang kepada putrinya, maka uang itu pada akhirnya akan hilang di tangan keluarga lain. (hal. 8)

Terkadang melihat dan memercayai sekali pun tak membuatku berhasil menemukan kebenaran. (hal. 37)

Orang Cina menyebut rasa makanan vegetarian sebagai “rasa janda” – seperti mati rasa karena telah kehilangan orang yang disayangi. (hal. 43)

Lepaslah dari cinta manusia. Itu ilusi. (hal. 96)

Masakan Zen memberikan tiga kebaikan: kemurnian, kesegaran, harmoni. Itulah sebabnya kita vegetarian. Karena makanan yang mengandung daging akan mengacaukan hati dan pikiran kita, tidak menyisakan tempat untuk disiplin dan refleksi diri. (hal. 405)

booktrack

Tomorrow Will Be Better by Various Artist
Don’t Say Goodbye by Alan Tam
Don’t Dream It’s Over by Crowded House
I Knew You Were Waiting (For Me) by Aretha Franklin & George Michael

 

20130323-114025.jpg
20130322-091443.jpg

About lustandcoffee

A housewife, a mother, a passionate literati, a writer, a tea addict & occasional traveler. I also translate some articles for a business magazine. I'm a contributor for Writer's Magz Indonesia.

Posted on May 29, 2013, in Uncategorized and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 7 Comments.

  1. Buku jadul ya, dulu pernah punya, berhubungan lama banget tdk sempat-sempat baca, akhirnya kuhibahkan …skrg jadi penasaran lagi hehe *duh-timbunanku*

  1. Pingback: Passports to the World Reading Challenge 2013 | lustandcoffee

  2. Pingback: What’s in a Name 6 Reading Challenge 2013 | lustandcoffee

  3. Pingback: Jan – June Wrap Up Post | lustandcoffee

  4. Pingback: 15 Day Book Blogging Challenge Day 13: Underrated Book | lustandcoffee

  5. Pingback: [Book Review] Peach Blossom Pavilion by Mingmei Yip | lustandcoffee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: