[Book Review] Cintapuccino by Icha Rahmanti

bookinfo

cintap

20130506-114940.jpg

Novel ini tidak memuat sinopsis di cover belakangnya, jadi gue nggak bisa posting Book Blurb-nya. Jujur, gue kurang suka dengan buku yang nggak ada sinopsisnya, kayak beli kucing dalam karung. Tapi, berhubung Cintapuccino ini pernah booming, gue akhirnya beli dan mau baca.

Iya, gue akui gue memang telat membaca buku ini. Sangat telat malah. Karena, pada saat buku ini lagi ngehits, gue lagi vakum membaca. Jangan tanya kenapa.

Adalah Ami yang terobsesi pada Nimo sejak di bangku SMA. Demi dekat dengan cowok idamannya, Ami sampai rela masuk tim keamanan sekolah, ikut tes ke universitas yang sama, bahkan pernah melamar ke perusahaan tempat Nimo bernaung. Rada-rada memang cewek bernama Ami ini.

Karena merasa hanya dianggap sebutir debu oleh Nimo, Ami sudah bisa move on dan akhirnya bertemu dengan Raka, yang serius ingin melamarnya. Ami mengalami dilema karena dia kembali bertemu dengan Nimo tanpa sengaja di Mie Lela, tempat nongkrong idola remaja awal tahun 2000-an.

Cintapuccino berhasil membuat gue bernostalgia dengan Bandung, kota yang gue anggap rumah kedua. Lalu, julukan-julukan untuk mantan Ami, seperti Mr. Sub Zero dan Mr. DW, menurut gue juga kreatif.

Yang agak mengganggu adalah dialog repetan Ami yang panjang. Kebayang kalo gue ketemu orang kaya gini, gue bakal sakit kuping.

Kedua, tiga tokoh utamanya sangat tidak likeable. Saat Nimo tiba-tiba minta Ami untuk jadi istrinya, gue cuma bisa bilang WTH dalam hati. Lalu, sikap Raka yang nggak defensif juga bikin gue bengong. Lalu, Ami yang dulu getol stalking Nimo, saat Raka membatalkan tunangan, ngejar-ngejar Raka. Seriously, gue gagal paham dengan sikap Ami. Sakit hati sih pasti la yah, diputus tunangan. Tapi sampe ngejar-ngejar, gue sih ogah.

Ketiga, tiga tokoh utama flawlessly grandeur. Nimo ganteng, pinter, karir sukses, kerja di Okie. Ami yang masuk perusahaan asing yang sama dengan Nimo, memilih keluar, lalu membuka usaha sendiri. Raka dapat kesempatan magang di London News Hilite.

Novel Cintapuccino ini cukup menghibur, bisa dibaca cepat dan selesai dalam satu-dua kali duduk. Banyak informasi mengenai kerjaan engineer, lalu Murphy’s Law, juga tidbits bisnis distro.

Gue masih punya utang baca Beauty Case, dan gue juga masih menanti karya Icha yang lain.

2cat

20130330-114856.jpg

About lustandcoffee

A housewife, a mother, a passionate literati, a writer, a tea addict & occasional traveler. I also translate some articles for a business magazine. I'm a contributor for Writer's Magz Indonesia.

Posted on May 24, 2013, in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. Suka sama Cintapuccino ini, tapi masih sakit hati sama endingnya karena diam-diam disini #TeamRaka😀

    BTW, Beauty Case bagus lho, I prefer it than Cintapuccino.

  1. Pingback: Jan – June Wrap Up Post | lustandcoffee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: