[Book Review] Kitchen by Banana Yoshimoto

bookinfo

20130506-114331.jpg

20130506-114513.jpg

“Aku tak bisa tidur di tempat lain selain dapur.”

Mikage Sakurai sebatang kara sejak neneknya meningal. dapur menjadi satu-satunya tempat dimana ia dikelilingi panci bekas pakai dan sisa ceceran sayur, serta ditemani sepetak langit malam berbintang di jendela.

namun dapur keluarga Tanabe yang membuatnya jatuh cinta. Di sana selama satu musim panas ia bergulat dengan acar, udon, soba, dan tempura. Di sana pula ia temukan apa yang tak pernah dimilikinya: keluarga, bersama Yuichi Tanabe yang dingin dan Eriko Tanabe yang mempesona–perempuan transeksual yang sejatinya ayah kandung Yuichi.

Ketika Eriko meninggal, Mikage dan Yuichi menjauh dan saling terasing dalam kesedihan. Apa yang harus mereka lakukan untuk bangkit dari dukacita dan menyadari ada cinta di antara mereka?

20130506-114940.jpg

“Tempat yang paling kusukai di dunia ini adalah dapur.”

Sounds like my mother-in-law. Kalimat pembuka yang nendang walau sederhana.
Pertama kali lihat buku ini di Gramedia tapi entah selalu ragu untuk membelinya. Lalu, akhir April, sebuah book club di Goodreads merencanakan untuk baca bareng buku ini. Pas gue cek reviewnya, Jia kasih bintang 4 untuk buku ini. Penasaran, gue cek toko buku online dan susah banget ternyata nyari buku ini yang versi terjemahan. Setelah nanya di group BBI Facebook, akhirnya mbak A.S. Dewi bersedia meminjamkannya kepada gue. Terima kasih banyak ya, mbak Dewi.

Buku ini berisi dua novella. Gue bahas satu-persatu ya.

Kitchen

Kitchen berkisah tentang Mikage Sakurai, yatim piatu yang juga ditinggal oleh kakek neneknya yang meninggal. Ia sangat cinta pada dapur, karena ketika kecil, ia hanya bisa tidur nyenyak di dapur. Mikage tumbuh menjadi seorang kitchen otaku.
Mikage bertemu dengan seorang pemuda yang bekerja di toko bunga yang kerap didatangi oleh almarhum neneknya. Namanya Yuichi Tanabe. Mikage diminta untuk tinggal bersama Yuichi dan ibunya, Eriko, dengan alasan apartemen lamanya terlalu besar untuk ditinggali sendirian. Uniknya, Eriko adalah transgender yang dulunya ayah Yuichi.
Walau jarang bertemu dengan Yuichi dan Eriko, Mikage merasa nyaman tinggal di rumah mereka. Mikage menganggap keluarga Yuichi abnormal. Salah satunya kegemaran mereka belanja barang-barang elektronik.
Gosip tentang Mikage yang tinggal bersama Yuichi santer terdengar seantero kampus. Sotaro, mantan pacar Mikage, bercerita bahwa pacar Yuichi menampar kekasihnya itu setelah tahu Yuichi dan Mikage tinggal satu atap.

Yuichi kehilangan. Peristiwanya terjadi ketika Mikage sudah lulus dan keluar dari apartemen keluarga Tanabe. “Kehilangan” adalah kata kunci dari novella ini. But there’s a silver linings in every cloud, right? Ada kalanya seseorang ‘mendapatkan’ setelah merasakan ‘kehilangan’.
Agak lucu ketika membaca adegan Mikage yang mencium aroma teh Earl Grey. Menurutnya, aromanya seperti bau peti mati.

Lalu, ada juga adegan di mana Yuichi menginap di kuil Buddha atas rekomendasi Chika, teman almarhum ibunya. Di Jepang (juga Korea), banyak kuil yang menerima tamu turis yang ingin menginap dan merasakan atmosfer tradisional.

Contohnya ini. Gue pernah menyaksikan salah satu tayangan di channel Arirang tentang penginapan kuil Buddha di Korea. Menurut kesaksian si turis, makanannya enak, dan tentunya sehat.

Moonlight Shadow
Judulnya berbau paranormal romance. Mirip dengan Kitchen, novella ini juga tidak jauh dari topik kematian. Satsuki harus rela kehilangan kekasihnya, Hitoshi, yang tewas dalam kecelakaan. Sering mimpi burukdi pagi hari, Satsuki memutuskan untuk lari pagi. Ia bertemu dengan seorang wanita aneh yang bernama Urara.

Hitoshi memiliki adik laki-laki bernama Shu. Usianya18 tahun. Ia memiliki seorang kekasih bernama Yumiko yang juga tewas karena kecelakaan. Saat Hitoshi mengantar pulang Yumiko, kecelakaan maut itu terjadi. Semenjak Yumiko meninggal, Shu kerap mengenakan seragam kelasi milik Yumiko ke sekolah. Kebayang anehnya seorang siswa laki-laki memakai seragam perempuan. Orangtuanya dan orangtua Yumiko melarang Shu memakai seragam Yumiko, karena tentu Yumiko tidak akan bahagia jika ia bisa melihatnya. Tapi Shu tak peduli.

Urara mengajak Satsuki untuk bertemu kembali pada hari dan waktu yang ia tentukan. Kata Urara, sesuatu yang langka akan terjadi. Kejadiannya tiap 100 tahun sekali. Peritiwa itu dinamakan fenomena Tanabata. Peristiwa itu hanya bisa terjadi di sungai besar, dan tidak semua orang bisa melihatnya. Keyword untuk cerita ini adalah move on. Bahwa kehilangan bukan berarti membuat kita jadi ikut mati.

Setelah membaca buku ini, kesimpulan gue adalah aishiteru, Banana Yoshimoto! Buku ini indah, diksinya cantik. Hands down to Dewi Anggraeni as a translator, you did an awesome job.

20130506-115101.jpg

Kitchen

Jika suatu hari tiba waktuku untuk mati, aku ingin mengembuskan napas terakhirku di dapur. (hal. 4)

Orang sering bilang, kita bisa menilai tipe pemilik rumah hanya dengan melihat toiletnya. (hal. 11)

Tentu menyakitkan rasanya jika tak punya tempat tujuan saat sedang terluka. (hal. 25)

Rasanya sungguh menyenangkan bisa minum teh pada sore hari bersama orang yang bisa membuatku nyaman. (hal. 31)

Aku bahagia karena bisa menderita. (hal. 53)

Air hujan mengalir bukan ke dalam harapan, melainkan ke dalam keputusasaan yang jauh lebih besar. (hal. 63)

Memang praktis kan, kalau kamu tetap menempel padanya dalam hubungan tanpa status? (hal. 97)

Selalu ada permata di dalam hati manusia. (hal. 117)

Moonlight Shadow

Kami tak punya cara lain selain bermain-main dan menjadikan luka hati kami sebagai lelucon. (hal. 157)

Orang yang sudah mati tidak akan kembali dan benda akan tetap menjadi benda. (hal. 159)

 

20130330-114930.jpg

20130330-114856.jpg

About lustandcoffee

A housewife, a mother, a passionate literati, a writer, a tea addict & occasional traveler. I also translate some articles for a business magazine. I'm a contributor for Writer's Magz Indonesia.

Posted on May 7, 2013, in Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. novella yang pertama itu manis banget kan, yang kedua itu jadi ingat “Wandering Son”.

  1. Pingback: Passports to the World Reading Challenge 2013 | lustandcoffee

  2. Pingback: Jan – June Wrap Up Post | lustandcoffee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: