[Book Review] In The Eye of The Storm by Brilliant Yotenega

20130405-010356.jpg

bookinfo

inthe

 

 

thoughts

Surprised and excited. Itu yang pertama kali gue rasakan saat tahu ketika Ega, salah satu sahabat penulis, akan merilis buku yang diberi titel In the Eye of the Storm ini. Lewat note di akun Facebooknya, Ega memberi spoiler isi buku ini beberapa chapter. Nggak butuh waktu lama untuk membaca dan mencerna kisah perjalanan hidupnya yang penuh dengan goncangan. Seperti diterpa badai, begitulah pengalaman Ega saat menapakkan kaki di ibukota yang kejam ini.
Bab demi bab mengalir lancar, diselipi beberapa kutipan dari penulis ternama. Di beberaoa bagian, air mata gue jatuh saking terharunya, seolah merasakan apa yang dialami oleh Ega.
Gue salut akan perjuangan Ega, bangga Ega bisa melewatinya dengan bahu tegak, dan hingga saat ini, Ega masih murah senyum.

Buku ini sama sekali tidak menggurui. Membagi pengalaman berharga adalah salah satu amal, dan gue adalah salah satu orang yang tersentuh oleh tulisan Ega. Betapa bersukur dan berserah pada Tuhan adalah hal simpel namun masih berat untuk dilakukan.

Dengan segala kesederhanaan dan kerendahan hatinya, penulis sadar bahwa pertolongan Tuhan memang selalu tepat pada waktunya.

Buku ini diterbitkan secara indie oleh nulisbuku.com. Gue merekomendasikan buku ini untuk semua orang.

20130330-114930.jpg

author

20130405-010528.jpg

1. Apa yang memicu Anda untuk menulis buku ini?
Kisah yang aku tulis ini sudah terjadi beberapa tahun 2008. Aku berpikir bahwa di tahun itu adalah salah satu milestone dalam hidupku. Dan, aku ingin anak-anakku nanti memahami hal-hal yang dapat mempengaruhi masa depan mereka karena keputusan yang aku buat di tahun 2008 tersebut. Semoga kisahku nanti dapat memberikan sedikit identitas yang berguna bagi dirinya sendiri🙂

2. Kapan ide untuk menulis dan merilis buku ini muncul?
Aku sudah lama ingin menuliskannya sejak apa yang pernah aku alami. Dan aku berjanji kepada diri sendiri untuk menuliskannya. Untuk menulis sebuah kisah di masa lalu ternyata membutuhkan mental yg cukup, tidak mudah melakukannya, karena kita harus mengunjungi kepingan-kepingan kenangan yang pahit sekali lagi dan menuliskannya. Namun saat awal tahun 2013, aku menantang diriku untuk melakukannya, menulis dan menerbitkannya menjadi buku. I did it! Menulis itu selalu melegakan🙂

3. Siapa penulis favorit Anda?
Ini pertanyaan jebakan, hahaha, karena aku membaca banyak buku, dari buku bisnis, religi sampai novel. Dan aku mengagumi banyak penulis. Bagiku setiap penulis itu jenius. Mereka semua sangat menginspirasiku. Jika harus memilih, aku suka: Yann Martel, Paulo Coelho, Charles R. Swindoll, John C. Maxwell, John Grisham, Seno Gumira Ajidarma.

4. Sedang membaca buku apa?
Aku juga selalu bingung jika ditanya pertanyaan seperti ini, karena aku selalu membeli banyak buku setiap kali berkunjung ke toko buku (bahkan toko buku online juga), dan membaca semuanya secara random, setiap hari aku bisa membaca 3 sampai 5 buku yang berbeda secara bergantian. Buku-buku yang sedang berserakan di mejaku adalah the Fifth Mountain by Paulo Coelho, Buku puisi Joko Pinurbo: Baju Bulan, Man of Honor: William Soeryadjaya biografi, Irrational Cunsumer by Dan Ariely (Non-fiksi), Berani Mengubah by Pandji Pragiwaksono

5. Untuk proyek selanjutnya, apakah Anda masih berpijak pada genre yang sama, atau ada rencana untuk menulis novel fiksi?
Tidak, selanjutnya aku ingin menulis novel fiksi juga, menulis minimal satu buku bisnis, dan buku cerita anak juga sepertinya menantang🙂

6. Punya waktu menulis favorit? Pagi, siang atau malam?
Pagi sebelum jam 7 dan malam setelah jam 11. Di luar jam tersebut adalah waktu yang tepat untuk membaca dan mengamati kehidupan🙂

7. Lagu yang cocok untuk menjadi soundtrack “In The Eye of the Storm”?
Di buku saya tersebut sudah terselip sebuah lagu yang cocok setiap bab-nya. Dan, lagu tersebut mewakili mood di setiap babnya.

8. Seandainya “In the Eye of the Storm” difilmkan, siapa yang cocok untuk memerankan tokoh Anda dan istri Anda?
Hahaaha, Idealnya sih setiap penulis novel tidak mengintervensi pilihan sutradara dalam membuat film, karena mungkin akan sangat berbeda visinya. Namun, jika harus memilih, aku akan memilih Tio pakusadewo ketika masih muda, atau Lukman Sardi boleh juga. Untuk istri, aku memilih diperankan oleh Prisia Nasution.

9. Ada pesan untuk pembaca/calon pembaca “In the Eye of the Storm”?
Saat menulis buku tersebut, aku selalu mengingat kata-kata yang ditulis oleh Raja Daud ini:
“Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.”
Jadi, setiap hal yang kita lalui dalam hidup itu layak untuk dikenang dan ditulis, maka nikmatilah kenangan itu.🙂

10. Pesan untuk penulis baru?
Jangan berhenti berkarya. Kita tidak akan pernah tahu bagaimana sebuah karya akan mempengaruhi seseorang. Tetaplah menulis!

Brilliant Yotenega
Twitter: @byotenega
FB: http://www.facebook.com/byotenega

20130330-114856.jpg

About lustandcoffee

A housewife, a mother, a passionate literati, a writer, a tea addict & occasional traveler. I also translate some articles for a business magazine. I'm a contributor for Writer's Magz Indonesia.

Posted on April 6, 2013, in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. Kayaknya bagus~ covernya juga menarik..

  2. Terima kasih sudah dibaca dan di-review🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: