[Book Review] Weedflower by Cynthia Kadohata

20130225-053344.jpg

Judul: Weedflower (Bunga Liar)
Penulis: Cynthia Kadohata
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Kategori: Fiksi Terjemahan
Genre: Historical Fiction/Middle Grade/Cultural/Asian Lit
Jumlah halaman: 270
Terbit: Oktober 2008

Book Blurb

Sumiko yang berumur dua belas tahun merasa hidupnya terbagi atas dua bagian: sebelum dan sesudah Pearl Harbor. Bagian yang baik dan bagian yang buruk. Dibesarkan di perkebunan bunga di California, Sumiko sudah terbiasa menjadi satu-satunya gadis Jepang di kelasnya. Meskipun anak-anak lain mengejeknya, Sumiko memiliki rumah, keluarga, dan bunga-bunga liarnya.

Semua itu berubah setelah peristiwa Pearl Harbor. Orang-orang Amerika curiga bahwa seluruh warga keturunan Jepang—termasuk mereka yang lahir di Amerika Serikat seperti Sumiko—adalah mata-mata Kaisar. Ketika kecurigaan itu semakin membengkak, Sumiko dan keluarganya mendapati diri mereka diangkut ke kamp konsentrasi di salah satu padang gurun terpanas di Amerika.

Warna-warni bunga yang melingkupi hidup Sumiko lenyap sudah, berganti dengan badai debu yang menghitamkan langit dan menerobos setiap pori-pori barak militer yang merupakan `rumah` barunya.Sumiko dengan cepat menemukan bahwa kamp itu terletak di daerah reservasi orang India, dan orang Jepang tidak diterima di situ seperti juga di tempat sebelumnya. Tapi kemudian Sumiko bertemu dengan seorang pemuda Mohave. yang mungkin bisa menjadi sahabat pertamanya, kalau saja sang pemuda mau melupakan amarahnya kepada orang Jepang yang dianggap menyerobot tanahnya.

Dengan pemahaman yang tajam dan mendalam, dan dengan meminjam mata seorang gadis remaja yang mendambakan tempat, Cynthia Kadohata mengeksplorasi dampak pengeboman Pearl Harbor terhadap orang-orang Jepang di Amerika pada masa Perang Dunia II. Weedflower adalah kisah keindahan dan tantangan persahabatan antar-ras, dan mengangkat kisah nyata bagaimana pertemuan warga Amerika keturunan Jepang dan penduduk asli Amerika telah mengubah masa depan keduanya.

Thoughts

Beberapa tahun lalu, gue sempet beli buku ini di Gunung Agung PIM. Murah banget, kalo nggak salah 20 ribuan. Setelah itu, gue sempet nyari-nyari buku ini di lemari buku, tapi ternyata raib digondol maling yang pernah gue piara di rumah.

Setelah googling sana-sini, gue nemu lagi buku ini di salah satu OL seller dan pas datang gue buru-buru baca.

Cover buku versi terjemahan jauh lebih bagus daripada versi Bahasa Inggrisnya, menurut gue. Suka dengan komposisi warna dan gambar cewek Jepang pake kimono setengah badan.

Gue juga suka dengan tokoh Sumiko yang walau keras kepala, ia melindungi adiknya Tak-Tak. Sumiko juga digambarkan sebagai remaja yang tough, terutama setelah peristiwa Pearl Harbour yang menyebabkan dia dan keluarganya dipindahkan ke kamp penampungan. Yang bikin sedih, Sumiko harus berpisah dengan kakek dan pamannya.

Air mata gue menggenang waktu Sumiko ditolak masuk ke rumah teman sekelasnya (yang berkulit putih) di acara pesta ulang tahun. Langsung inget dengan kejadian waktu gue kecil yang bikin nyesek. It hurts when your friends ditch you because you’re different.

Kesukaan Sumiko akan bunga dan tanah juga menjadi cemoohan teman-temannya. I wonder whether the kids still do that these days: mocking their friends who (they think) are weird.

Sumiko dan keluarganya pindah dua kali. Di tempat penampungan terakhir, ia bertemu dengan Frank, cowok keturunan Indian yang hidupnya lebih memprihatinkan daripada warga keturunan Jepang yang hidup di kamp penampungan.

Sedikit demi sedikit tumbuh rasa suka diantara keduanya.

Yang gue suka dari buku ini adalah family values yang dijunjung tinggi tokoh-tokohnya. Baik Sumiko yang keturunan Jepang, maupun Frank yang keturunan Indian. Lalu, secuplik-dua cuplik adat Jepang dan Indian juga menjadi bumbu manis di buku ini.

Gue kurang puas dengan ending-nya yang agak nanggung. Gue berharap penulisnya mau nulis kelanjutan buku ini, karena gue membayangkan Sumiko dan Frank dewasa.

Istilah-istilah di buku ini:

kusabana = bunga liar
Nikkei = orang-orang berdarah Jepang yang ada di Amerika
hanafuda = permainan kartu dengan perangkat kartu khusus (bergambar bunga)
Gaman = Kita harus mampu menanggungnya
Hakujin = orang bule
Issei = generasi pertama imigran asal Jepang
haji = malu

Buku ini cocok untuk dijadikan bacaan referensi di kelas Sejarah SMP.

20130225-061243.jpg

20130225-061434.jpg

About lustandcoffee

A housewife, a mother, a passionate literati, a writer, a tea addict & occasional traveler. I also translate some articles for a business magazine. I'm a contributor for Writer's Magz Indonesia.

Posted on February 25, 2013, in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 5 Comments.

  1. maling kok dipelihara mbak (^0^)
    aq belum sempat baca cynthia kadohata, masih dalam timbunan >,<
    tapi ada yg bilang terjemahannya kurang mengena ya ?

    • Iya itu maling sempat aku piara dan menggondol banyak banget buku2 yang belom kubaca. *masih gondok*

      Yep, terjemahannya agak ‘nanggung’ kurang nancep.

      Sent from my iPad

  2. selamat pagi.. maaf mau tanya nih apakah novel weedflower ini juga ada dalam versi bahasa jepang nya kah? soalnya saya tertarik untuk menjadikan buku ini sebagai bahan untuk skripsi saya
    terimakasih🙂

  1. Pingback: Jan – June Wrap Up Post | lustandcoffee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: