[Book Review] Au Pair: Backpacking Keliling Eropa dengan Menjadi Babysitter by @ichayuz

20130202-054420.jpg

Judul: Au Pair: Backpacking Keliling Eropa dengan Menjadi Babysitter
Penulis: Icha Ayu
Penerbit: Stiletto Book
Cetakan I
Terbit: Desember 2012
Jumlah Halaman: 232
ISBN: 9786027572096
Genre: Non-fiction/Travel/Memoir

Book blurb:

Pengin mahir berbahasa asing dan jalan-jalan keliling Eropa? Kenapa tidak coba ikutan program au pair?

Yup, au pair (baca: oper) adalah program yang memungkinkan semua orang dengan batasan usia tertentu bisa terbang ke Eropa dan mempelajari bahasa serta budayanya dengan bekerja sebagai baby-sitter. Selain mendapat gaji yang bisa dipakai untuk traveling, menjadi au pair juga akan menambah “nilai jual” kita setelah pulang ke tanah air.

Mau tahu caranya dan apa saja yang harus dipersiapkan? Di buku ini, akan dibahas secara lengkap all about au pair. Dari mulai cara daftarnya, memilih host family, membuat resume yang menarik, sampai tips dan trik jalan-jalan secara murah meriah di Eropa à la au pair. Bukan itu saja, di buku ini, penulis juga sharing pengalamannya ketika menjadi au pair di Prancis selama dua tahun.

Thoughts:

Pertama kali tau tentang buku ini dari twitter @Stiletto_Book . Langsung tertarik pengin beli karena: 
1. Settingnya di Eropa. Gue punya memori tersendiri dengan benua ini. 
2. Karena judulnya (pake bold dan caps lock) AU PAIR. Gue langsung melotot baca judul bukunya, karena gue pun punya pengalaman nano-nano dengan Au Pair.
3. Gue suka dengan buku yang memiliki tema Au Pair/Babysitter/Nanny. So far, gue udah baca dua buku Hollywood Nanny yang seru, tapi belum pernah baca buku tema ini dengan penulis orang Indonesia.

Asli gue ngiri berat sama Icha. Gimana nggak? Icha bisa berkelana 2 tahun di Eropa dan merasakan pahit getir hidup di sana. Dan yang paling bikin gue sirik adalah menikmati outdoor yang jarang banget bisa gue dapatkan di ibukota tercinta ini.

Menjadi Au Pair memang gambling. Sukur-sukur dapat keluarga yang asik. Segala harapan dan excitement Icha harus pupus ketika ia tinggal di rumah keluarga Abdul.
Gue bisa ngebayangin gimana seremnya tinggal di rumah itu. Mungkin lebih baik tinggal di kastil Count Dracule kali ya, secara itu kan tokoh fiktif, sedangkan a scumbag with the name Abdul itu nyata. Gue juga ikut emosi saat membaca detik-detik terakhir Icha dan Abdul bertemu.

Dan dari buku ini gue juga jadi tahu istilah couchsurfing dan wwoofing. Sounds like a dog *ngikik*.
Pas baca bagian wwoofing, gue jadi teringat cerita suami waktu kuliah di Perth. Waktu jalan mau piknik sama teman-temannya, di tengah jalan ada cewek Jepang hitchhiking. Dia cerita kalo dia itu sebenarnya turis yang kehabisan uang. Jadi dia kerja di fruit farm, sampe duitnya terkumpul, baru dia traveling lagi. Memang terdengar nekat, tapi fun karena bisa merasakan real adventure, and I miss that kind of adventure.
Menurut cerita si Jepang, banyak orang Jepang yang kerja sebagai waiter atau wwoofing di Australia. Kalo yang gila malah jual diri segala *knock on wood, amit-amit jabang babon yah*

Icha juga nekat ber-hitchhiking yang memang menurut gue sangat berani. Trust is the key word. Pake feeling juga supaya nggak dikerjai sama orang yang kita tumpangi.

Lalu, bab tentang Samuel bikin gue deg-degan. Ooh la la, ternyata memang ada apa-apanya. Gue belum baca buku pertama Icha. Setelah ini, gue bakal baca bukunya yang sepertinya nyambung dengan buku Au Pair ini.

Yang bikin gue held my breath adalah waktu Icha cerita kisahnya di Italia. Salah satu impian gue adalah mengunjungi Verona yang kebayang sangat romantis. Jujur, gue jauh lebih kepengen pergi ke Verona daripada Paris. Pernah lihat di channel TLC yang membahas kota Verona, dan gue langsung terpesona dengan keindahan kota kunonya. Yes, rumah Juliet juga salah satu situs wajib untuk dikunjungi.

Di akhir buku, gue ikut menitikkan air mata, langsung teringat dengan beberapa sahabat gue di Swiss. Hari terakhir waktu gue diantar ke stasiun, gue berpelukan sambil nangis.

Au Pair bukan hanya sekedar buku tips traveling ke Eropa, tapi ada kisah di dalamnya yang bikin gue nggak mau berhenti baca. Emosi gue ikut teraduk saat membaca buku ini. Ngakak, senyum-senyum, mengumpat dalam hati, melonjak, melotot, dan menangis. Belum pernah gue baca buku traveling sampe emosional bacanya. 

Thumbs up untuk penulisnya. Gue tunggu karya Icha selanjutnya.
Yang mau kenalan dengan Icha bisa say hi ke Twitternya, @ichayuz

20130202-062623.jpg

20130202-062810.jpg

About lustandcoffee

A housewife, a mother, a passionate literati, a writer, a tea addict & occasional traveler. I also translate some articles for a business magazine. I'm a contributor for Writer's Magz Indonesia.

Posted on February 2, 2013, in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: