[Book Review] Nayla: Realita Remaja Jakarta

nayla-cover-baru

Judul: Nayla
Seri ISBN/EAN: 9789792289923 / 9789792289923
Penulis: Djenar Maesa Ayu
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Terbit: 15 November 2012
Jumlah halaman: 188
Fiksi

“Nayla” adalah buku kedua yang gue baca setelah “Mereka Bilang Saya Monyet”. Cover lama Nayla bikin ngilu, karena gambar close-up peniti yang tembus di kulit. Cover baru Nayla lebih provokatif, masih dengan ciri khas peniti yang menusuk kulit paha mbak Djenar, tapi kali ini covernya nyambung dengan tiga buku lainnya, yaitu “Mereka Bilang Saya Monyet”, “Jangan Main-Main (Dengan Kelaminmu)”, dan “Cerita Pendek Tentang Cerita Pendek”. Cover barunya lebih keren, simple dan edgy, khas Djenar Maesa Ayu. Bisa dibilang, kali ini covernya sangat mewakili genre tulisan Djenar, yang orang-orang bilang adalah sastra lendir/vulgar. Secara resmi, Djenar Maesa Ayu adalah salah satu penggagas sastra wangi. Disebut demikian karena secara hampir bersamaan nama-nama seperti Dee Lestari, Fira Basuki dan Ayu Utami juga turut meramaikan dunia sastra, selain Djenar tentunya.

Kemudian, pemilihan judul juga sangat sesuai dengan tema. Singkat, padat, mudah diingat dan langsung mengenai sasaran. “Nayla”, nama tokoh utama novel ini.

Gue bukan penggemar nomor satu genre ini, tetapi khusus buku “Nayla”, gue acungi dua jempol, karena Djenar mampu merangkai kisah “Nayla” dengan dunia gelapnya yang mendetil. Nayla adalah potret remaja metropolitan yang banyak ditemui di sekitar kita. Dunia hedonisme yang sarat dengan seks bebas, alkohol, narkoba juga orientasi seksual yang menyimpang. Novel ini juga menyinggung masalah bullying dan domestic abuse, dan tema ini hampir setiap hari terpampang di layar TV atau surat kabar.

Gue habis melahap buku ini dalam beberapa jam saja. Memang buku ini membuat gue penasaran hingga tidak bisa berhenti. Lembar demi lembar penuh sensasi khas Djenar, dan gue larut dalam kisah “Nayla” yang membuat gue tercekat.

Gaya penuturan Djenar yang blak-blakan dan apa adanya adalah nilai plus dalam setiap buku yang ia tulis. Sekarang bermunculan penulis-penulis baru yang mulai berani. Tapi, sebagai pelopor, Djenar adalah penulis terbaik dalam genre ini.

Kritik sosial dan sindiran Djenar terhadap dominasi patriarchal society, seperti di Indonesia ini, adalah juga salah satu ciri khasnya. Djenar seolah berteriak dalam novelnya, memprotes monopoli pria dalam masyarakat. Melalui tokoh-tokohnya, Djenar menyuarakan jerit hati wanita. Seperti itulah interpretasi gue akan karya Djenar.

Gue menikmati flow buku “Nayla”, di mana ada teks artikel berita, wawancara dengan media, dan tentunya dialog-dialog yang lugas. Djenar juga mengupas sisi psikologis Nayla yang mengalami domestic abuse oleh ibunya yang seorang pelacur. Nayla tumbuh menjadi pribadi yang jiwanya terluka dan tentu saja ia sangat membenci ibunya, dan tumbuh menjadi remaja yang liar.

“Nayla” hanya cocok dibaca oleh pembaca yang sudah berusia 18 tahun keatas.

20130105-102345.jpg

20130105-102423.jpg

About lustandcoffee

A housewife, a mother, a passionate literati, a writer, a tea addict & occasional traveler. I also translate some articles for a business magazine. I'm a contributor for Writer's Magz Indonesia.

Posted on January 16, 2013, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. Saya juga sudah baca mbak, dan hampir semua bukunya sudah punya tapi yang cover lama🙂

  1. Pingback: Jan – June Wrap Up Post | lustandcoffee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: