[Review] Hitam Putih Dunia Angel: Dan Pelangi Diantaranya

20120429-105555.jpg

Senang banget rasanya mendengar novel perdana Angeline Julia, yang akrab dipanggil Angel, akhirnya diluncurkan. Saya sudah lama mendengar Angel akan merilis kisah hidupnya yang luar biasa ini, dan tentu saja, saya juga ikut deg-degan menunggu telur itu pecah.

Setelah mbak Dewi, bos Stiletto Book, mengabarkan via BBM bahwa beliau ingin mengirimkan buku ini kepada saya untuk direview, saya tambah double lagi girangnya. Merasa tersanjung dipercaya untuk mereview buku ini.

Novel ini ditulis Angel berdasarkan kisah nyata yang dialaminya. Ia dijual oleh orang tua kandungnya karena mereka tidak mampu membayar biaya rumah sakit. Orang tua angkat Angel kemudian mengadopsinya. Karena perceraian demi perceraian yang dialami oleh ibu angkat Angel, ia mengalami gangguan psikis dan sering menyiksa anak semata wayangnya baik secara fisik maupun verbal.

Di usia rawan dimana seorang anak membutuhkan kasih sayang, bimbingan dan pembentukan karakter, Angel mengalami goncangan batin. Ia juga dilecehkan secara seksual oleh ibunya, sehingga Angel mulai mengalami disorientasi seksual. Belum lagi doktrin dari sang ibu yang mengatakan bahwa laki-laki hanya mengincar tubuh wanita dan ingin melampiaskan nafsu saja. Angel yang berusia 13 tahun merasa dirinya seorang lesbian dan ia menjalin cinta dengan guru wanita di sekolahnya.

Hubungan terlarang tersebut akhirnya kandas. Angel pindah ke Bandung dan menjalani kehidupan hedon bersama komunitasnya. Takdir mempertemukan Angel dengan pria yang mau menerima dan mencintainya secara tulus. Cobaan demi cobaan datang menghadang, tapi Angel mampu menjalani hidupnya dan menebas semua duri tajam yang menyakitinya.

Novel ini sangat jujur dan Angel menuturkan kisahnya seperti bercerita kepada sahabat. Beberapa kali saya ikut merasakan emosi Angel dan menitikkan air mata.
Angel juga menemukan kedamaian secara spiritual setelah diberi petunjuk lewat penglihatan.
Buku ini banyak sekali memberi pelajaran berharga bagi pembacanya. Salah satu kutipan yang saya suka,

“Luka dan sakit adalah tanda bahwa kita masih hidup.”

Beberapa masukan dari saya:

1. Masih ditemukan beberapa typo.
2. Ketidak konsistenan pemakaian huruf kapital dan huruf kecil dalam memanggil mama, nenek, kakek, dsb.
3. Di halaman 191, paragraf ke-3, ada kalimat seperti ini:
Seketika, Lia begitu panik ketika mengetahui bahwa Mama akan datang menemuiku, dia curiga dan berpikir bahwa Mama datang untuk membawaku kembali ke Medan.
– sebaiknya tanda koma itu diganti dengan titik, menjadi dua kalimat.
– saya agak bingung di bagian tersebut, karena sebelum Angel ke Yogyakarta, ia tinggal bersama ibunya di Jakarta. Tidak dijelaskan tentang kepindahan ibunya kembali ke Medan.

Tapi, kesalahan tersebut minor. Sama sekali tidak mengurangi nilai ceritanya.

Buku ini sangat layak untuk dikoleksi, terutama untuk yang penasaran dengan kehidupan LGBT.

Pesan saya: sedia Kleenex sebelum membaca dan biarkan emosimu larut dalam kisah Angel.

3.8 out of 5

About lustandcoffee

A housewife, a mother, a passionate literati, a writer, a tea addict & occasional traveler. I also translate some articles for a business magazine. I'm a contributor for Writer's Magz Indonesia.

Posted on April 29, 2012, in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: