[Book Review] Insatiable by Asa Akira

https://lustandcoffee.files.wordpress.com/2013/06/book_info.jpg?w=604

20140806-114145.jpg

Title Insatiable: Porn – A Love Story
Author: Asa Akira
Publisher: Grove Atlantic
Web Link: link
Date of Release: May 6, 2014
No. of Pages: 256
ISBN: 978-602-9193-17-6
Format: Ebook
Category: Non Fiction
Genre: Biography, Memoir, Porn

book_blurb

Asa Akira (28) has already had an extremely unusual life. Educated at the United Nations International School in Manhattan, she soon was earning a good living by stripping and working as a dominatrix at a sex dungeon. Akira has now built up a reputation for being of the most popular, hardworking, and extreme actors in the business, winning dozens of awards for her 330+ movies, including her #1 bestselling series “Asa Akira Is Insatiable”.

In Insatiable, Akira recounts her extraordinary life in chapters that are hilarious, shocking, and touching. In a wry, conversational tone, she talks about her experiences shoplifting and doing drugs while in school, her relationship with other porn stars (she is married to one) and with the industry at large, and her beliefs about women and sexuality. Insatiable is filled with Akira’s unusual and often highly amusing anecdotes, including her visit to a New Hampshire sex shop run by a mother and son.

In a world where porn is increasingly becoming part of the mainstream, Akira is one of very few articulate voices writing from the inside. She something important, controversial, and astonishingly interesting to say about sex and its central role in our lives and culture.

thoughts

Asa Akira is probably one of the most popular names in porn industry. The self-proclaimed anal queen is not ashamed to flaunt her best interest: having freaky sex on camera.

I’ve read several porn memoirs. One of them is Ordeal, the most disturbing memoir I’ve read so far.
Unlike Lovelace, Akira admits that she enjoys having sex on camera. She says she comes from a happy family. She started masturbating at an early age, that her mother forbade her to put on a blanket, afraid of what she might do under the sheet.

Akira also broke the myth of pornstars. She’s pretty and witty, somewhat rare in porn industry. Unlike any other paents, Akira’s can accept her profession. She said as long as she’s happy, her parents will support her all the way.

Insatiable is a fun read. I laughed a lot when I read this book. Some chapters are quite disturbing, especially parts about anal scene. One thing that confuses me is when Akira was offered to do a squirt scene. She couldn’t believe it because she’s not a squirter. But when she described her sex activities before AVN Awards with her husband, Toni Ribas, she explicitly explained that she squirted during sex and was asked to lick her own liquid (ewww).

What I learn about porn life:
1. Most porn stars contracted STDs. Chlamydia, herpes, or HIV, you name it. Akira got chlamydia during her second month of shooting porn.
2. Almost every porn star is addicted to (sex) drugs.
3. Of course, porn stars are exhibitionists. Akira says having sex on camera and thinking hundreds of men jerking off while watching her turn her on.
4. Not all sex is enjoyable during the shoot. Sasha Grey, a retired porn star, said that she had orgasm only three times during her porn career.
5. Some porn stars even quit the business because they’re humiliated. In her book, Linda Lovelace said she was forced to do porn by her husband. Alina Li has recently quit the business. Read her story here.

If you want to know a bit about porn industry, you may check out this book.

An A to Z Porn Glossary inspired by Asa Akira’s Insatiable: click here

20140225-050101.jpg

Until next time

20131128-083529.jpg

[Book Review] Queen, Empress, and Concubine by Claudia Gold

https://lustandcoffee.files.wordpress.com/2013/06/book_info.jpg?w=604

20140726-045544.jpg

Judul: Queen, Empress, Concubine
Penulis: Claudia Gold
Penerjemah: Ida Rosdalina
Penerbit: Alvabet
Web Penerbit: link
Terbit: April 2012, cetakan pertama
Tebal: 152 halaman

ISBN: 978-602-9193-17-6
Kategori: Non Fiksi
Genre: Biografi, Sejarah
Beli di: Yes24
Harga: Rp. 115,900

book_blurb

Di balik dominasi laki-laki dalam sejarah, ternyata ada sejumlah perempuan hebat yang menjadi penguasa, sebagai ratu atau permaisuri, presiden atau perdana menteri. Kaum elit perempuan ini—yang berkuasa melalui suksesi dinasti, pemilu demokratis, atau dengan cara lain—telah mencapai kepemimpinan tertinggi dalam politik. Beberapa di antara mereka bahkan menjadi tokoh sangat berpengaruh dan karismatik dalam sejarah dunia.

50 Perempuan Penguasa melukiskan dengan jelas potret kehidupan 50 perempuan luar biasa yang memegang posisi politik sangat dominan dalam sejarah, dari Ratu Sheba di zaman kuno hingga Perdana Menteri Benazir Bhutto di era modern. Setiap profil tokoh digambarkan dengan jelas dalam konteks dan budaya setempat kala itu, sehingga memungkinkan sang penulis untuk tidak hanya menceritakan kisah hidup tokoh-tokoh perempuan yang penuh keberanian dan ketegasan ini, melainkan juga menyuguhkan informasi memikat perihal sejarah sosial alternatif selama 3.500 tahun terakhir.

Dilengkapi dengan gambar-gambar eksklusif untuk setiap tokoh serta didesain dengan tata letak isi yang bervariasi, buku ini benar-benar indah dan memikat. Dan, jika Anda meragukan kompetensi, keahlian, dan keagungan perempuan dalam kepemimpinan dan kekuasaan, buku ini akan dengan mudah membalikkan pandangan Anda.

thoughts

Saya nggak sengaja menemukan buku ini di situs Yes24. Tadinya saya mau membeli sepatu. Ternyata, memang dasar bukan rezeki, sepatu tersebut sold out. Saya bingung mau beli apa. Pada hari tersebut, buku ini muncul di halaman utama. Karena saya sedang menonton serial The Borgias, saya memutuskan untuk membeli buku ini. Dua tokoh dalam serial yang berdasarkan kisah nyata pemerintahan Vatikan era Paus Alexander VI tersebut, yaitu Lucrezia Borgia dan Catharina Sforza dibahas dalam buku ini.
Saya juga sedang membaca buku Maharani karya Pearl S. Buck. Tokoh utamanya, mantan selir yang menjadi Empress dinasti Qing, yaitu Ci Xi juga ada di buku ini.

Dari ke-50 tokoh wanita penguasa di buku ini, beberapa yang menarik perhatian saya adalah:
1. Nefertiti
Selain terkenal karena kecantikannya, Nefertiti dan suaminya, Akhenaten, berani membuat agama baru. Sebelumnya, rakyat Mesir memuja Amun-Ra. Saat Akhenaten berkuasa, ia menghancurkan kuil pemujaan terhadap dewa Amun, Mut, dan Khonsu, diganti dengan dewa tunggal, Aten.

2. Izebel
Istri raja Ahab yang memuja Baal ini menjadi musuh Elia. Suaminya yang dulu mengakui satu tuhan membiarkan istrinya membawa nabi-nabi palsu ke istananya. Ia juga membunuh nabi-nabi pemuja Yahweh. Sesuai ramalan Elia, Izebel mati mengenaskan. Sebelumnya saya pernah membaca kisah Izebel dari buku The Fifth Mountain yang reviewnya ada di sini.

3. Caterina Sforza
Musuh bebuyutan keluarga Borgia ini dikenal sebagai perempuan perkasa yang mampu berperang dalan keadaan hamil.
Ketika musuh mengancam akan membunuh anaknya, ia mengangkat roknya dan mempertontonkan kelaminnya sambil berkata bahwa ia tidak takut karena ia sanggup memproduksi lebih banyak anak lagi.

4. Mary Tudor
Ratu pertama Inggris yang ditolak ayahnya karena kasus pembatalan perkawinan antara ayahnya, Henry VIII dengan ibunya Catherine Aragon. Ia juga difitnah telah melakukan pembakaran massal kaum Protestan. Gara-gara peristiwa itu, ia dikenal dengan nama “Bloody Mary”.

5. Cixi
Selir kelas tiga yang naik pangkat menjadi istri raja karena kecerdasannya. Demi ambisinya untuk naik tahta, ia mencuri hati ibu suri, juga menjalin hubungan baik dengan kasim kerajaan dan pemegang kekuasaan politik. Ia melahirkan seorang putra yang kelak menjadi kaisar, namun anaknya mengangkat musuh Cixi menjadi menteri. Peristiwa berdarah tak terelakkan. Cixi memimpin tahun-tahun terakhir runtuhnya dinasti Manchu.

Yang saya sukai dari buku ini selain ukurannya yang besar (coffee table), juga ilustrasi dan halaman full color. Biografi tiap tokoh ringkas dan padat, dilengkapi inset kejadian penting dan kronologis dari awal mula berkuasa hingga tokoh tersebut tutup usia.

Sayangnya, terjemahannya masih terasa kaku di beberapa bagian.
Tapi secara keseluruhan saya suka buku ini. Gara-gara membaca buku ini saya jadi tertarik untuk mencari buku biografi beberapa tokohnya.

20140225-050101.jpg

Until next time

20131128-083529.jpg

Wishful Wednesday 38: History of Imperial China Series

20130403-124544

Udah lama banget kayaknya ngga update blog dan ikutan meme Wishful Wednesday. Tahun ini jadwal baca rada berantakan karena ada tugas lebih penting yang menanti *lap keringet*.

Saya sedang tergila-gila dengan segala sesuatu yang berbau sejarah. Waktu sekolah dulu, sejarah adalah salah satu mata pelajaran favorit saya. Banyak yang nggak suka dengan sejarah karena membosankan, pusing menghafal tanggal kejadian, ada juga teman yang berpendapat bahwa kita harus move on, gak perlu mengungkit kejadian lampau yang terlanjur terjadi.
Kenapa saya suka sejarah? Salah satunya karena saya suka drama dan intrik, dan ada aja drama dan intrik dalam peristiwa sejarah yang lebih ngejedar dari kejadian sekarang.

Wishlist saya kali ini adalah buku-buku berikut:

20140723-102750.jpgThe Early Chinese Empires: Qin and Han by Mark Edward Lewis

Description:

In 221 BC, the First Emperor of Qin unified the lands that would become the heart of a Chinese empire. Though forged by conquest, this vast domain depended for its political survival on a fundamental reshaping of Chinese culture. With this informative book, we are present at the creation of an ancient imperial order whose major features would endure for two millennia.

The Qin and Han constitute the “classical period” of Chinese history—a role played by the Greeks and Romans in the West. Mark Edward Lewis highlights the key challenges faced by the court officials and scholars who set about governing an empire of such scale and diversity of peoples. He traces the drastic measures taken to transcend, without eliminating, these regional differences: the invention of the emperor as the divine embodiment of the state; the establishment of a common script for communication and a state-sponsored canon for the propagation of Confucian ideals; the flourishing of the great families, whose domination of local society rested on wealth, landholding, and elaborate kinship structures; the demilitarization of the interior; and the impact of non-Chinese warrior-nomads in setting the boundaries of an emerging Chinese identity.

The first of a six-volume series on the history of imperial China, The Early Chinese Empires illuminates many formative events in China’s long history of imperialism—events whose residual influence can still be discerned today.

20140723-103501.jpgChina Between Empires by Mark Edward Lewis

Description

After the collapse of the Han dynasty in the third century CE, China divided along a north–south line. Mark Edward Lewis traces the changes that both underlay and resulted from this split in a period that saw the geographic redefinition of China, more engagement with the outside world, significant changes to family life, developments in the literary and social arenas, and the introduction of new religions.

The Yangzi River valley arose as the rice-producing center of the country. Literature moved beyond the court and capital to depict local culture, and newly emerging social spaces included the garden, temple, salon, and country villa. The growth of self-defined genteel families expanded the notion of the elite, moving it away from the traditional great Han families identified mostly by material wealth. Trailing the rebel movements that toppled the Han, the new faiths of Daoism and Buddhism altered every aspect of life, including the state, kinship structures, and the economy.

By the time China was reunited by the Sui dynasty in 589 CE, the elite had been drawn into the state order, and imperial power had assumed a more transcendent nature. The Chinese were incorporated into a new world system in which they exchanged goods and ideas with states that shared a common Buddhist religion. The centuries between the Han and the Tang thus had a profound and permanent impact on the Chinese world.

20140723-103756.jpgChina’s Cosmopolitan Empire: The Tang Dynasty by Mark Edward Lewis

Description:

The Tang dynasty is often called China’s “golden age,” a period of commercial, religious, and cultural connections from Korea and Japan to the Persian Gulf, and a time of unsurpassed literary creativity. Mark Edward Lewis captures a dynamic era in which the empire reached its greatest geographical extent under Chinese rule, painting and ceramic arts flourished, women played a major role both as rulers and in the economy, and China produced its finest lyric poets in Wang Wei, Li Bo, and Du Fu.

The Chinese engaged in extensive trade on sea and land. Merchants from Inner Asia settled in the capital, while Chinese entrepreneurs set off for the wider world, the beginning of a global diaspora. The emergence of an economically and culturally dominant south that was controlled from a northern capital set a pattern for the rest of Chinese imperial history. Poems celebrated the glories of the capital, meditated on individual loneliness in its midst, and described heroic young men and beautiful women who filled city streets and bars.

Despite the romantic aura attached to the Tang, it was not a time of unending peace. In 756, General An Lushan led a revolt that shook the country to its core, weakening the government to such a degree that by the early tenth century, regional warlordism gripped many areas, heralding the decline of the Great Tang.

20140723-104138.jpgThe Age of Confucian Rule by Dieter Kuhn

Description:

Just over a thousand years ago, the Song dynasty emerged as the most advanced civilization on earth. Within two centuries, China was home to nearly half of all humankind. In this concise history, we learn why the inventiveness of this era has been favorably compared with the European Renaissance, which in many ways the Song transformation surpassed.

With the chaotic dissolution of the Tang dynasty, the old aristocratic families vanished. A new class of scholar-officials—products of a meritocratic examination system—took up the task of reshaping Chinese tradition by adapting the precepts of Confucianism to a rapidly changing world. Through fiscal reforms, these elites liberalized the economy, eased the tax burden, and put paper money into circulation. Their redesigned capitals buzzed with traders, while the education system offered advancement to talented men of modest means. Their rationalist approach led to inventions in printing, shipbuilding, weaving, ceramics manufacture, mining, and agriculture. With a realist’s eye, they studied the natural world and applied their observations in art and science. And with the souls of diplomats, they chose peace over war with the aggressors on their borders. Yet persistent military threats from these nomadic tribes—which the Chinese scorned as their cultural inferiors—redefined China’s understanding of its place in the world and solidified a sense of what it meant to be Chinese.

The Age of Confucian Rule is an essential introduction to this transformative era. “A scholar should congratulate himself that he has been born in such a time” (Zhao Ruyu, 1194).

20140723-105953.jpgChina’s Last Empire: The Great Qing by William T. Rowe

Description:

In a brisk revisionist history, William T. Rowe challenges the standard narrative of Qing China as a decadent, inward-looking state that failed to keep pace with the modern West.

The Great Qing was the second major Chinese empire ruled by foreigners. Three strong Manchu emperors worked diligently to secure an alliance with the conquered Ming gentry, though many of their social edicts—especially the requirement that ethnic Han men wear queues—were fiercely resisted. As advocates of a “universal” empire, Qing rulers also achieved an enormous expansion of the Chinese realm over the course of three centuries, including the conquest and incorporation of Turkic and Tibetan peoples in the west, vast migration into the southwest, and the colonization of Taiwan.

Despite this geographic range and the accompanying social and economic complexity, the Qing ideal of “small government” worked well when outside threats were minimal. But the nineteenth-century Opium Wars forced China to become a player in a predatory international contest involving Western powers, while the devastating uprisings of the Taiping and Boxer rebellions signaled an urgent need for internal reform. Comprehensive state-mandated changes during the early twentieth century were not enough to hold back the nationalist tide of 1911, but they provided a new foundation for the Republican and Communist states that would follow.

This original, thought-provoking history of China’s last empire is a must-read for understanding the challenges facing China today.

Saya baru punya 1 buku dari seri ini, yaitu The Troubled Empire by Timothy Brook link

Semoga saya kesampaian bisa mengoleksi seri ini.

Yuk, yang mau ikutan Wishful Wednesday, langsung aja klik blog Perpus Kecil by Astrid.

Happy Wednesday

20130622-091605.jpg

[Book Review] Love Letters to the Dead by Ava Dellaira

https://lustandcoffee.files.wordpress.com/2013/06/book_info.jpg?w=604

20140613-115949.jpg

Title: Love Letters to the Dead
Author: Ava Dellaira
Publisher: Farrar, Straus and Giroux (BYR)
Published: April 1st, 2014
No. of Pages: 336 pages
ISBN: 9780374346683
Format: Ebook
Goodreads: here
Opening sentence:
Dear Kurt Cobain,
Mrs. Buster gave us our first assignment in English today, to write a letter to a dead person.

book_blurb

It begins as an assignment for English class: Write a letter to a dead person. Laurel chooses Kurt Cobain because her sister, May, loved him. And he died young, just like May did. Soon, Laurel has a notebook full of letters to people like Janis Joplin, Amy Winehouse, Amelia Earhart, Heath Ledger, and more; though she never gives a single one of them to her teacher. She writes about starting high school, navigating new friendships, falling in love for the first time, learning to live with her splintering family. And, finally, about the abuse she suffered while May was supposed to be looking out for her. Only then, once Laurel has written down the truth about what happened to herself, can she truly begin to accept what happened to May. And only when Laurel has begun to see her sister as the person she was; lovely and amazing and deeply flawed; can she begin to discover her own path.

thoughts

Mungkin ini yang dinamakan love at first sight. Saya iseng browsing membuka email yang sudah lama saya abaikan. Pas membuka email dari seorang blogger favorit saya, dia memamerkan buku bacaannya minggu ini.
Salah satu yang catchy, baik cover maupun judul adalah buku ini.

Laurel adalah seorang remaja dengan jiwa yang terluka. Dia ditugasi oleh guru Bahasa Inggrisnya untuk menulis surat kepada orang yang sudah mati. Surat pertama Laurel ditujukan kepada mendiang Kurt Cobain, salah satu pendiri grup legendaris genre Grunge yang merupakan idola kakaknya, May,yang sudah meninggal.

Surat pertama berlanjut dengan surat kedua, ketiga, dan seterusnya.

Laurel mencurahkan isi hatinya dengan bebas tanpa hambatan kepada selebritas yang telah tiada.

Saya memang belum membaca banyak buku Young Adult, tapi buku ini begitu memikat sampai saya tak bisa berhenti membaca.
Laurel yang rapuh diceritakan dari sudut pandangnya sendiri. Betapa ia masih membutuhkan figur May yang ia jadikan panutan, sehingga ketika May tiada, Laurel seperti kehilangan tempat berpijak.

Love Letters to the Dead merupakan novel debut Ava Dellaira.
Novel sederhana yang memuat banyak emosi di dalamnya. Love it to pieces.

Selebritas macam Jim Morrison, Janis Joplin, Judy Garland, hingga River Phoenix diikutkan dalam novel ini, membuat saya terhempas ke masa silam untuk beberapa saat.

20140614-120124.jpg

20130725-125152.jpg

Until next time

20131128-083529.jpg

Pic credit: Macmillan Teen

Wishful Wednesday 37: Oleander Girl

20130403-124544

Udah tiga bulan hiatus ngeblog, termasuk partisipasi Wishful Wednesday.
Terus terang, gara-gara sakit lama dan kerjaan, semangat baca agak meluntur. Harus dipecut lagi nih supaya rajin baca lagi.

Gara-gara buka Facebook, saya jadi kepengin banget punya novel yang ini:

20140604-084544.jpg

Description:

From the bestselling author of One Amazing Thing, a sweeping, suspenseful, atmospheric coming-of-age novel about a young woman who leaves India for America on a search that will transform her life.

Beloved by critics and readers, Chitra Banerjee Divakaruni has been hailed by Junot Díaz as a “brilliant storyteller” and by People magazine as a “skilled cartographer of the heart”. Now, Divakaruni returns with her most gripping novel yet.

Orphaned at birth, seventeen-year-old Korobi Roy is the scion of a distinguished Kolkata family and has enjoyed a privileged, sheltered childhood with her adoring grandparents. But she is troubled by the silence that surrounds her parents’ death and clings fiercely to her only inheritance from them: the love note she found hidden in her mother’s book of poetry. Korobi dreams of one day finding a love as powerful as her parents’, and it seems her wish has come true when she meets the charming Rajat, the only son of a high-profile business family.

But shortly after their engagement, a heart attack kills Korobi’s grandfather, revealing serious financial problems and a devastating secret about Korobi’s past. Shattered by this discovery and by her grandparents’ betrayal, Korobi undertakes a courageous search across post 9/11 America to find her true identity. Her dramatic, often startling journey will, ultimately, thrust her into the most difficult decision of her life.

Ciri khas tulisan Chitra Banerjee Divakaruni adalah cerita tentang imigran asal India yang tinggal/pindah ke Amerika Serikat membawa adat-istiadatnya yang kental.

Karena kebanyakan koleksi saya novel terjemahan, maka saya juga berharap buku ini diterjemahkan oleh GPU.

Yuk, yang mau ikutan Wishful Wednesday, langsung aja klik blog Perpus Kecil by Astrid.

Happy Wednesday

20130622-091605.jpg

[Book Review] In The Name of Honor by Mukhtar Mai

posting bareng BBI 2014

http://lustandcoffee.files.wordpress.com/2013/06/book_info.jpg?w=604

in-the-name-oh-honor-atas-nama-kehormatan
Judul: In The Name of Honor (Atas Nama Kehormatan)
Penulis: Mukhtar Mai
Penerbit: Pustaka Alvabet
Terbit: Desember 2009
Tebal: 198 halaman
ISBN: 978-979-3064-78-9
Kategori: Non Fiksi
Genre: Memoir, Culture, Feminism
Beli di: Bukabuku – Harga: Rp. 29,750
Harga: Rp. 23,000
Kalimat pembuka:
PADA MALAM HARI TANGGAL 22 JUNI 2002, KELUARGA kami membuat sebuah keputusan.

book_blurb

INTERNATIONAL BESTSELLER TELAH DITERJEMAHKAN DALAM 18 BAHASA DI 19 NEGARA

“Mukhtar Mai adalah seorang pahlawan. Dia telah mengalami pemerkosaan dan kebrutalan pengadilan. Atas kejadian itu dia meyakinkan kita akan pentingnya pendidikan—dan harapan. —Nicholas Kristoff, The New York Times

Mukhtar Mai adalah perempuan Muslim berusia 35 tahun yang tinggal di perkampungan kecil di selatan Punjab, Pakistan. Ia termasuk satu dari 100 tokoh paling berpengaruh versi Majalah TIME.

Melalui kisah ini, mudah-mudahan saya dapat membantu orang lain untuk memahami bahwa perubahan harus dilakukan.”—Mukhtar Mai

Untuk pertama kalinya, Mukhtar Mai menuangkan pengalaman pahitnya dalam buku yang sangat menyentuh hati. Sebuah kisah mengenai penderitaan dan kehinaan yang mendalam, juga keberanian dan keyakinan yang besar.

Pada 22 Juni 2002, Mukhtar Mai dijatuhi hukuman oleh Dewan Adat di desanya dengan cara diperkosa. Dia dipegangi oleh empat orang laki-laki, ditelanjangi dan kemudian diperkosa beramai-ramai. Lalu, ia diperintahkan untuk berjalan pulang dalam kondisi setengah telanjang di hadapan 300-an penduduk desa. Dengan cara dipertontonkan dan dipermalukan di depan umum, Mai harus melakukan itu demi ‘membayar’ suatu tindak kejahatan yang tanpa bukti, yang dituduhkan kepada adik laki-lakinya.

Adik laki-laki Mai, Abdul Syakur (12 tahun), dituduh memiliki affair dengan seorang gadis dari kasta yang lebih tinggi. Dewan Adat akhirnya menjatuhkan hukuman kepada Mukhtar Mai dengan cara diperkosa. Menjelang menit-menit pelaksanaan hukumannya, Mukhtar Mai meminta belas kasihan, memohon agar adiknya dibebaskan, dan membaca al-Quran—satu-satunya bacaan yang dihapalnya.

thoughtsSudah cukup lama saya tidak membaca buku non fiksi. Pas nggak sengaja browsing di BukaBuku.com, saya menemukan buku ini dan tertarik untuk memilikinya. Kebetulan tema baca bareng bulan ini mengusung tema perempuan, saya pikir buku ini cocok dengan tema tersebut.

Mukhtar Mai adalah seorang perempuan miskin anak petani dari kasta Gujar yang tinggal di desa Meerwala, Pakistan. Adik laki-lakinya dituduh berzina dengan seorang perempuan yang usianya jauh lebih tua. Sialnya, perempuan itu berasal dari kasta Mastoi, kasta yang lebih tinggi dari kaum Gujar. Orang-orang Mastoi menguasai sebagian besar lahan di desa tersebut dan kerap berlaku sewenang-wenang terhadap kaum Gujar.

Untuk meringankan hukuman adiknya, Mukhtar Mai diutus keluarganya untuk memohon kepada para lelaki Mastoi. Bukannya diberi maaf, Mukhtar Mai diseret ke gudang dan diperkosa beramai-ramai, lalu dilemparkan keluar kandang dalam keadaan setengah telanjang.

Orang normal akan bunuh diri jika mengalami kejadian yang dialami oleh Mukhtar Mai. Karena mukjizat dari Tuhan serta tekad yang kuat, Mukhtar melawan para pemerkosanya dan ia berjuang hingga akhirnya ia mendapat perhatian international.

Pada awalnya, Mukhtar yang buta huruf dikerjai oleh pihak kepolisian. Ia dipaksa menempelkan sidik jari pada lembaran kosong (yang tadinya akan dibuat laporan palsu tentang pengakuan Mukhtar). KArena kebijakan hakim, Mukhtar berkata jujur dan laporannya tersebut berhasil menyeret para pemerkosa dan pihak yang terlibat dalam kejahatan tersebut ke meja hijau. Mukhtar membuka jalan bagi para wanita Pakistan yang sebelumnya diinjak-injak oleh kaum lelaki bejat.

Buku ini membuat saya menahan napas, menangis, dan meringis karena tak tega. Untung saja penulis tidak menceritakan bagian pelecehan seksual secara eksplisit. Jujur saja, saya paling tidak kuat membaca buku tema pemerkosaan. Saya jadi teringat dengan para wanita yang mendapat perlakuan tak adil seperti ini. Banyak kasus pemerkosaan di daerah Timur Tengah yang malah merugikan pihak wanita. Mereka diadili dengan tuduhan perzinahan lalu dihukum mati. Miris saya mendengar kabar seperti ini.

Mukhtar Mai adalah sosok perempuan sederhana yang memiliki ketegaran seperti baja. Saya salut dengan perjuangannya yang membuahkan hasil di luar dugaan. Ia mendapat uang kompensasi dari pemerintah yang kemudaian ia gunakan untuk membangun sekolah di kampungnya. Ia juga dianugerahi penghargaan oleh pemerintah Pakistan. Selain itu, buku memoir ini pertama kali terbit di Prancis. Kasus Mukhtar Mai yang mendapat perhatian international juga membawanya ke markas PBB dan Mukhtar bicara di sana untuk menyuarakan hak wanita. Mukhtar juga dinobatkan sebagai satu dari 100 tokoh paling berpengaruh di dunia.

Tadinya saya ingin memberikan 5 bintang untuk buku ini, sayang terjemahannya terasa agak kaku. Tapi secara keseluruhan, saya sangat menyukai buku ini, apalagi karena endingnya membuat saya tersenyum.

 

20131125-062111.jpg

Need a second opinion?

Baltyra
Stefanus Akim

 

Until next time

20131128-083529.jpg

BBI Anniversary 2014 Giveaway Hop Winners

20140306-121213.jpg

Akhirnya bisa pegang lappie dan update pemenang BBI Anniversary Giveaway Hop.

Sebelumnya saya minta maaf atas keterlambatan pengumuman pemenang ya. Karena kesibukan lain, saya jadi jarang update blog.

Dan… dari lubuk hati paling dalam, saya ingin mengucapkan…

Dirgahayu BBI
Makin jaya, makin kece, dan makin eksis di dunia perbukuan.

Pemenang BBI Bloghop Anniversary 2014 adalah …

Pemenang 1:

Aulia Ratri
@auliaaRatri
aulian_rhatri@ymail.com

Kamu berhak mendapat buku senilai Rp. 100,000 yang bisa dibelanjakan di Bukabuku.

Pemenang 2:

Amelia Aura
ameliaura66@gmail.com
@meliarawr

Kamu berhak mendapat paket buku White Lies, Sunrise Serenade, dan Hatimu.

Selamat untuk para pemenang. Kirimkan data diri beserta alamat lengkap ke: raining.lin77@gmail.com saya tunggu 2×24 jam ya. Kalau tidak ada konfirmasi, hadiah akan saya alihkan.

Terima kasih banyak untuk para peserta giveaway. Semoga beruntung di lain kesempatan.

20130622-091605.jpg

[Book Review] Mencintaimu Pagi, Siang, Malam by Andrei Aksana

posting bareng BBI 2014

http://lustandcoffee.files.wordpress.com/2013/06/book_info.jpg?w=604

10794324Judul: Mencintaimu Pagi, Siang, Malam
Penulis: Andrei Aksana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Februari 2011
Tebal: 224 halaman
ISBN: 978-979-22-6733-4
Kategori: Kumpulan Puisi
Genre: Romance
Beli di: Bazaar Gramedia Bintaro Plaza
Harga: Rp. 10,000
Bisa dibeli di: Bukabuku – Harga: Rp. 42,500
Kalimat pembuka:
Pagi untuk mencintaimu, seolah tak ada lagi hari esok.

book_blurb

@FiraBasuki:
Mencintai kamu.
Seperti dilebihkan waktu.
Setiap pagi bertambah rasaku.

@djenarmaesaayu:
Love is when you are falling in love every day with the same person.

@ratihkumala:
Musim panas sedang gerah dan patah hati.
Izinkan terik siang ini dia berteduh di mimpimu.

@clara_ng:
Malam adalah memoar luka, seperti angin mencatat pilu di palung mata dara-dara.
Pada keringat dadanya, gairah syahwat menelanjangi cinta.

thoughtsBelum pernah saya membaca buku kumpulan puisi sebelumnya. Thanks toBBI yang sudah menggelar event baca bareng dan mengambil tema buku ini. Kalau nggak mungkin saya juga nggak bakalan baca buku kumpulan puisi.

Puisi itu, terus terang, bukan genre favorit saya juga. Bisa dibilang saya menghindari buku puisi karena takut ribet dengan kata-kata puisi yang berbunga-bunga namun maknanya nggak jelas (atau saya nggak ngerti maksudnya). Ternyata, membaca puisi itu cukup menyenangkan. Apalagi buku kumpulain puisi karya Andrei Aksana ini termasuk ringan dan nggak njelimet. Kalimat-kalimat puitis nan indah mewarnai buku ini. Biasanya saya membaca novel karya Andrei yang juga disisipi puisi (yang saya kurang suka), tapi—anehnya—saya cukup menikmati buku Mencintaimu Pagi, Siang, Malam ini.

Karena saya bukan penggemar kalimat puitis nan indah berbunga dan bergelora, beberapa puisi pendek yang saya sukai dari buku ini justru yang tidak memakai kata ‘cinta’.

 

Pagi adalah hati yang percaya,
meski kamu entah di mana. (hal. 16)

Pagi untuk melupakan.
Semua yang semalam tak tergenggam. (hal. 21)

Pagi ketika kereta lewat,
tapi kamu tetap di peron,
menunggu tanpa pamrih. (hal. 24)

 

Di dalam buku ini ada cinta yang berbuah manis, cinta tak terbalas, perselingkuhan, juga kesendirian. Pokoknya semua tentang cinta. Namun, karena begitu banyak cinta yang diumbar, saya sempat tersendat membaca buku ini karena saya jenuh dengan cecintaan yang seolah tak berujung.

Sesuai dengan judulnya, penulis mengungkapkan perasaannya saat pagi, siang, hingga malam menjelang. Puisi malam terakhir ditutup dengan bittersweet, seolah ingin menutup cerita dan siap membuka lembaran yang baru.

 

20140225-050101.jpg

Until next time

20131128-083529.jpg

[Book Review] For One More Day by Mitch Albom

http://lustandcoffee.files.wordpress.com/2013/06/book_info.jpg?w=604

for-one-more-day
Judul: For One More Day (Satu Hari Bersamamu)
Penulis: Mitch Albom
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Desember 2007
Tebal: 248 halaman
ISBN: 978-979-22-3433-6
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Family, Death, Sports
Beli di: Lotte Mart Bintaro
Harga: Rp. 15,000
Kalimat Pembuka:
“Biar kutebak. Kau ingin tahu kenapa aku mencoba bunuh diri.”

book_blurbFor One More Day adalah kisah tentang seorang ibu dan anak laki-lakinya, kasih sayang abadi seorang ibu, dan pertanyaan berikut ini: Apa yang akan kaulakukan seandainya kau diberi satu hari lagi bersama orang yang kausayangi, yang telah tiada? Ketika masih kecil, Charley Benetto diminta untuk memilih oleh ayahnya, hendak menjadi “anak mama atau anak papa, tapi tidak bisa dua-duanya.” Maka dia memilih ayahnya, memujanya—namun sang ayah pergi begitu saja ketika Charley menjelang remaja. Dan Charley dibesarkan oleh ibunya, seorang diri, meski sering kali dia merasa malu akan keadaan ibunya serta merindukan keluarga yang utuh. Bertahun-tahun kemudian, ketika hidupnya hancur oleh minuman keras dan penyesalan, Charley berniat bunuh diri. Tapi gagal. Dia justru dibawa kembali ke rumahnya yang lama dan menemukan hal yang mengejutkan. Ibunya—yang meninggal delapan tahun silam masih tinggal di sana, dan menyambut kepulangannya seolah tak pernah terjadi apa-apa.

thoughts

For One More Day adalah buku ketiga karya Mitch Albom yang saya baca, dan buku fiksi pertama karya beliau yang saya baca. Beruntung saya berhasil menemukan buku ini di boks obralan Gramedia Lotte Mart, Bintaro. Ternyata, buku ini diobral karena penerbit merilis ulang dengan cover baru yang lebih cantik.

for-one-more-day-baru

For One More Day bercerita tentang Chick Benetto yang menghabiskan satu hari bersama almarhum ibunya, Posey. Chick adalah mantan atlet bisbol pro yang pernah masuk World Series. Hidupnya hancur setelah ia cedera dan tidak bisa lagi bermain bisbol. Lalu, hubungannya dengan istrinya, Catherine, dan putrinya, Maria, juga tidak baik. Ia bahkan tidak diundang untuk menghadiri pernikahan Maria. Chick mencoba untuk mematikan rasa sakit dengan minum-minuman keras, dan ia bertekad untuk mengakhiri hidupnya karena ia sudah merasa tidak berguna lagi. Sebuah kecelakaan membuatnya kembali ke rumah masa kecilnya, dan ia menghabiskan satu hari bersama ibunya.

Setelah membaca tiga buku, saya berkesimpulan bahwa Mitch Albom suka mengangkat tema kematian dalam buku-bukunya. Mitch seolah ingin menekankan bahwa hidup sangat singkat, jadi jangan sia-siakan kesempatan untuk melakukan sesuatu sehingga jika orang tersebut/kita pergi meninggalkan dunia, tidak ada penyesalan yang tertinggal.

Sama seperti buku-buku terdahulunya, buku ini ditulis dengan apik dan membuat pembaca berkaca-kaca. Setelah melahap buku ini, saya jadi ingin memeluk orangtua saya dan mengucapkan terima kasih kepada mereka.

Bacaan yang recommended jika kamu ingin berderai-derai dan memboroskan tisu.

quotes

“Aku melakukan apa yang penting bagiku,” katanya. “Aku menjadi seorang ibu.” (hal. 165)

Percaya, kerja keras,cinta—kalau kau punya hal-hal ini, kau bisa melakukan apa pun. (hal. 202)

 

20131125-062111.jpg

 

Need a second opinion?

Bacaan Bzee
Crazy in Books
Membaca Buku

Until next time ^^

20131128-083529.jpg

BBI Anniversary 2014 Project Giveaway Hop

20140306-121213.jpg

Yay, first giveaway hop in 2014!

Memperingati hari jadi BBI tanggal 13 April, saya ingin berbagi kebahagiaan dengan membagikan hadiah untuk pembaca blog Lust and Coffee. Saya akan pilih dua orang pemenang dengan hadiah sebagai berikut:

Bookvcr

Pemenang I: mendapatkan voucher buku senilai Rp. 100,000 yang bisa dibelanjakan di toko buku online lokal mana saja.

bks
Pemenang II: mendapatkan paket buku: White Lies by Riz Amelia, Sunrise Serenade by Dian Syarief Pratomo & Sundea, dan Hatimu by Salsa Oktifa.

Ongkos kirim ditanggung Lust and Coffee ^^

Nah, sekarang syarat-syaratnya ya…

1. Berdomisili di Indonesia
2. Follow @BBI_2011 dan @yuska77 di Twitter
3. Follow blog Lust and Coffee via email atau Bloglovin
4. a. Berikan ucapan selamat ulang tahun untuk BBI di Twitter dengan mention @BBI_2011.
Contoh: Dirgahayu @BBI_2011 semoga semakin rajin menyebarkan virus membaca cc: @yuska77 wp.me/p1d1V6-1g2
b. Tulis di kolom komentar tentang pendapatmu mengenai blog Lust and Coffee. Boleh layout, isi, atau apa saja. Berikan rekomendasi buku yang keren untuk saya.
Jangan lupa cantumkan Nama, alamat email dan akun Twittermu.
5. Pemenang akan dipilih berdasarkan komentar terbaik, jadi buatlah sekreatif mungkin ya ^^
6. Periode giveaway mulai 14 Maret sampai 11 April 2014 pukul 23:59
7. Good luck and have fun ^^

Oiya, jangan lupa untuk mampir di blog teman-teman yang lain untuk ikutan giveaway-nya juga. Ada banyak hadiah di sana. List teman-teman yang mengadakan giveaway di sini. Cek postingn paling bawah ya.

Happy bloghopin’

20130622-091605.jpg

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,481 other followers